SPsUIN JakartaBERITA SEKOLAH Online– Untuk mempercepat realisasi visi UIN Jakarta sebagai research university dan sekaligus world class university, Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta merencanakan pembangunan gedung baru.

Hal tersebut sebagaimana dilansir dari surat Direktur SPs Prof Dr Masykuri Abdillah

tanggal 23 Agustus 2016 perihal permohonan pengajuan usulan Pembangunan Gedung SPs ditujukan kepada Rektor UIN Jakarta.

Dalam surat bernomor Un.01/SPs/KS.01.1/1660/2016 itu disebutkan bahwa SPs telah mengirimkan Proposal Pembangunan Gedung SPs kepada Menteri Agama RI pada 7 April 2016. Dalam surat tersebut dirinci, bangunan baru nantinya akan dipergunakan untuk ruang kuliah bagi mahasiswa SPs tingkat Magister dan Doktor Program Studi (Prodi) Pengkajian Islam yang kini berjumlah 916 orang.

“Ke depan akan dibuka Prodi Kajian Timur Tengah, Kajian Asia Tenggara, Kajian Perdamaian, dan Kajian Gender,” ujar Masykuri dalam surat tersebut.

Selain itu, bangunan juga akan dipergunakan untuk ruang kuliah bagi mahasiswa S2 dan S3 yang secara akademik di bawah koordinasi fakultas yang kini berjumlah sekira 780 orang.

Peruntukan lain akan dipergunakan untuk ruang pimpinan dan staf administrasi SPs dan Prodi-prodi S2 dan S3, ruang perpustakaan dan ruang kerja mahasiswa yang sedang menulis disertasi, ruang sidang ujian promosi dan ruang rapat, ruang dosen (guru besar) yang memiliki homebase di SPs dan Prodi-prodi S2 dan S3, ruang peneliti dan ruang visiting scholars, dan ruang-ruang lainnya untuk mendukung kelancaran kegiatan akademik.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha SPs Retno Wulansari SAp saat dihubungi BERITA UIN Online menjelaskan, berdasarkan survey Direktur SPs dan tim UIN Jakarta, gedung baru rencananya akan dibangun di tanah milik UIN Jakarta yang berlokasi di Jl Kerta Mukti Ciputat Tangerang Selatan.

“Lokasi persisnya di depan Alfa Midi, di deretan kantor Dharma Wanita UIN Jakarta,” ujar Retno melalui pesan singkatnya, Selasa (20/9/16).

Dijelaskannya, pelaksanaan pembangunan belum dapat dipastikan kapan akan dimulai, tergantung persetujuan dan pencairan dana dari Menteri Agama. Pasalnya, gedung baru tersebut membutuhkan dana yang besar.

“Kan tergantung ada duit baru bisa do it,” tutup Retno berkelakar. (mf)