Shamsi AliAuditorium SPs, BERITA SEKOLAH Online— Era kepemimpinan Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Donald J. Trump sejak 20 Januari 2017 menjadi momentum masyarakat Muslim menjelaskan Islam kepada masyarakat dunia, terutama AS sendiri.

Kampanye dan sejumlah kebijakan kontroversial Trump tentang Islam mendorong publik di AS untuk memahami Islam secara lebih dekat.

Demikian disampaikan Imam Islamic Center of New York-USA, Shamsi Ali, saat menyampaikan kuliah umum ‘Islam di Amerika Era Donald Trump‘, di Auditorium Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta, Rabu (12/7/2017). Pada kuliah umum yang dihadiri puluhan mahasiswa master dan doktor SPs, hadir juga Direktur SPs Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Ketua Program Doktor Prof. Dr. Didin Saepudin MA, dan Ketua Program Magister Dr. JM Muslimin MA.

“Memang tampak banyak paradoks di AS kini. Tapi peluang (menjelaskan Islam, red.) makin terbuka. Sebab makin banyak warga AS yang ingin tahu tentang Islam. Semakin banyak yang tahu dan sadar bahwa Islam bukan agama baru dan tamu di sana. Tapi jadi bagian integral AS,” papar lelaki kelahiran Bulukumba, Sulawesi Selatan ini.

Shamsi menuturkan, sejak memulai kampanye meraih kursi kepemimpinan nomor satu di AS, Trump memang banyak menampilkan sikap kontroversial tentang Islam. Kendati diyakini hanya bagian retorika politik guna meraih simpati pemilih Pilpres AS, namun nyatanya sikap tersebut tidak luntur setelah ia meraih kursi kepresidenan dengan mengalahkan pesaing utamanya, Hillary Diane Rodham Clinton atau populer disebut Hillary Clinton.

Salah satu janji kampanye yang direalisasikan Trump adalah membuat pelarangan warga Muslim memasuki AS. Janji yang disampaikan dalam kampanye putaran Desember 2016 ini belakangan direalisasikan melalui pelarangan masuk pengungsi dan warga dari tujuh negara mayoritas Muslim, Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman.

Dengan sikap orang nomor satu AS seperti demikian, lanjutnya, justru menjadikan banyak warga AS yang bersikap simpatik dan tertarik untuk lebih mengenal dan memahami Islam. Jika selama ini yang tertarik kepada Islam adalah mayoritas warga Amerika keturunan Afrika (African Americans), belakangan kemudian muncul kecenderungan dari warga Amerika keturunan Spanyol (Hispanic Americans) dan warga kulit putih (White Americans).

“Jika sebelumnya merupakan Afro American dan dari kalangan penjara, justru sekarang banyak dari kalangan Hispanic, Kulit Putih, muda, terdidik, dan profesional yang bekerja sebagai tenaga ahli di kongres, senat, dan staf gedung putih,” paparnya.

Dalam situasi demikian, lanjut Shamsi, yang dibutuhkan adalah figur-figur Muslim yang bersemangat dan terdidik untuk menjelaskan Islam lebih ramah kepada masyarakat AS. Kalangan Muslim terdidik dari Indonesia merupakan salah satu yang diharapkan dalam menjelaskan hal itu.

“Kalangan Muslim Indonesia memiliki modal untuk berdiri di garda terdepan dalam menafsirkan dan menjelaskan Islam yang sesungguhnya, rahmatan lil alamin, mengedepakan kerjasama dan kerukunan,” katanya.

Modal yang dimaksud, jelasnya, adalah posisi umat Islam Indonesia sebagai mayoritas di dunia, pendidikan keislaman yang modern, dan budaya toleransi yang mengakar kuat. (farah nh/yuni nurkamaliah/zm)