Islamic educationAuditorium SPsUIN – BERITA SEKOLAH Online – Seiring dengan kemajuan ekonomi dari waktu ke waktu, eksistensi lembaga pendidikan Islam semakin diakui oleh masyarakat dan negara.

Hal ini terbukti dengan minat masyarakat yang cukup besar untuk menyekolahkan anaknya ke beberapa lembaga pendidikan Islam.

 Selain minat yang besar menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan Islam, terlihat juga keberpihakan serta pengakuan negara secara lebih jelas terhadap mutu dan kelembagaan sekolah yang berbasiskan Islam. Indikasi ini menjadi poin positif bagi keberlangsungan pendidikan Islam di Indonesia.

Pikiran di atas digulirkan pembicara utama, Prof Dr Azyumardi Azra CBE pada Seminar Internasional bertajuk Islamic Education: Challenges and Strategies for Innovations yang diselenggarakan Sekolah Pascasarjana (SPS), Kamis 9 November 2017. Selain Prof Dr Azyumardi Azra CBE, pembicara lain yang ikut menjadi nara sumber dalam seminar tersebut, di antaranya Prof Dr Masykuri Abdillah, Direktur SPS, Prof Dr Norbani Binti Ismail (Islamic International University, Malaysia), Dr Nevzat Chelik (Universitas Sorbonne Paris), Dr Irina Katkova (Pusat Kearsipan dan Manuskrip Rusia), Prof Hafidz Abbas (UNJ, Jakarta) dan Dr Shirley Ann Baker (Alliant University, USA).

Dalam pandangan Azra, minat dan pengakuan tersebut bisa dijelaskan dengan berdirinya Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada era tahun 2000-an. Hal serupa juga terlihat dari banyaknya inovasi pendidikan dan kelembagaan Islam yang tergerak untuk mendirikan beberapa sekolah berbasiskan Islam dengan berbagai macam terobosan metodologis dan materi pembelajaran.

“Madrasah Aliyah Insan Cendekia di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) bisa mewakili tren terkini dari inovasi yang dimaksud,” ungkap Azra.

 Pikiran yang sama juga diapungkan Prof Dr Hafidz Abbas. Guru Besar dUniversitas Negeri Jakarta (UNJ) ini menegaskan bahwa kelembagaan dan materi pembelajaran yang disajikan di beberapa sekolah berbasis Islam, mencerminkan kreativitas dan inovasinya untuk menjawab tantangan zaman.

“Pekerjaan selanjutnya, bagaimana inovasi tersebut menjadi semakin merata di seluruh penjuru Indonesia. Tidak hanya di beberapa sekolah dan madrasah saja,” ujar Hafidz, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Di tepi lain, Dr Nevzat Chelik dari Universitas Sorbonne, Perancis, menyampaikan bahwa inovasi apapun yang dilakukan oleh lembaga pendidikan Islam, tetaplah harus berpijak pada jati diri dan filosofi pendidikan Islam itu sendiri.

“Tidak bisa inovasi tersebut hanya sekedar mengcopy apa yang ada dalam pendidikan konvensional,” ungkap Chelik. Pendapat Chelik ini didukung Prof Dr Norbani Binti Ismail. Dalam pandangan Norbani, dari alumni pendidikan Islam terbukti lahir juga berbagai tokoh pendidik kreatif dan emansipatif. Sebutlah Rahmah el-Yunusiah di Sumatera Barat. Tantangannya sekarang adalah, bagaimana sintesa antara pendidikan Islam dan model pendidikan kontemporer dapat terus dilanjutkan untuk melahirkan ‘blue-print’ visi dan misi yang terus kompatibel dengan dinamika sosial.

 Di penghujung sesi pada hari pertama seminar, Dr Shirley Baker menegaskan bahwa salah satu hal yang tidak dapat diabaikan dalam berinovasi dan menjawab tantangan di dunia pendidikan, adalah peran aktor pendidikan itu sendiri.

“Khususnya pemimpin lembaga pendidikan. Di Amerika Serikat sendiri, riset menunjukkan bahwa sekolah atau universitas yang dipimpin oleh para pemimpin yang kreatif dapat cepat berkembang. Baik dari sisi akademis maupun tata manajerialnya,” tegas Shirley Baker.

Sementara itu, Prof Masykuri Abdillah menekankan bahwa dalam pendidikan Islam yang baik dan komprehensif serta mendalam, akan dilahirkan peserta didik yang mampu menghargai perbedaan, bersikap terbuka dan menjaga harmonitas sosial yang baik. Pendidikan tersebut akan berakar pada ajaran Islam yang kokoh tetapi melahirkan manfaat sosial yang nyata dan dihargai oleh semua. Disinilah, arti strategis kedalaman pendidikan Islam.

“Lembaga pendidikan Islam di Indonesia, rata-rata berkomitmen untuk hal tersebut. Mampu menebarkan kedamaian sebagai perwujudan Islam sebagai rahmat untuk semesta,” tegas Masykuri.

Pada hari kedua, Jumat 10 November, agenda seminar adalah presentasi beberapa lontributor makalah dari seluruh Indonesia serta dari kalangan mahasiswa Sekolah Pascasarjana (SPs) sendiri. Tema yang dipaparkan berkisar pada kurikulum, metode, pemikiran, kelembagaan, inovasi dan tantangan dalam dunia pendidikan Islam. Dari 34 makalah yang masuk, telah diseleksi menjadi 25 makalah yang dianggap layak untuk dapat dipresentasikan. Pada sesi ini, Dr Nevzat Chelik, Prof Iik Arifin M. Noor, Dr. JM. Muslimin dan Dr. Kusmana bertindak sebagai reliever untuk pelaksanaan presentasi tersebut.