SEJARAH SINGKAT

Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (SPs UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta didirikan pada 1982. Pada awal berdirinya, SPs bernama Fakultas Pascasarjana (FPs) IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam (Dirjen Binbaga Islam) Departemen Agama R.I., H. Anton Timur Djaelani MA, No. KEP/E/422/81.

Keputusan tersebut menyatakan bahwa IAIN Jakarta telah memenuhi persyaratan untuk menyelenggarakan Program Pascasarjana (PPs). Surat keputusan Dirjen Binbaga Islam itu diperkuat oleh Surat Keputusan Menteri Agama No. 78 tahun 1982 yang berisi ketetapan tentang pembukaan Fakultas Pascasarjana pada IAIN Jakarta dan mengangkat Prof. Dr. Harun Nasution sebagai Dekan. Pada 1992 nama Fakultas Pascasarjana diubah menjadi Program Pascasarjana (PPs) dan jabatan Dekan Fakultas diubah menjadi Direktur PPs.

FPs pada awalnya didirikan terutama untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas akademik dosen agama Islam pada perguruan tinggi terutama dosen-dosen IAIN. Sejalan dengan tuntutan tersebut, PPs IAIN Jakarta pada mulanya diselenggarakan sebagai proyek Departemen Agama yang bertujuan meningkatkan kualitas dosen Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dan dosen agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum (PTU) Negeri. 

Peserta FPs IAIN Jakarta pada awalnya (tahun akademik 1982/1983) adalah dosen-dosen yang berasal dari berbagai IAIN di Indonesia, namun sejak tahun akademik 1985/1986 PPs IAIN Jakarta menerima peserta dari tenaga pengajar mata kuliah Pendidikan Agama Islam di PTU Negeri, dan sejak tahun 1990/1991 menerima peserta dari tenaga pengajar agama Islam di Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (PTAIS). Selain itu, FPs IAIN Jakarta menerima mahasiswa dari luar negeri, dari lembaga-lembaga dalam negeri, alumni IAIN atau perguruan tinggi lainnya selama persyaratan akademik dapat dipenuhi. 

Dalam membicarakan sejarah Pascasarjana UIN Jakarta penting dikemukakan peranan Prof. Dr. Harun Nasution. Pendirian PPs IAIN Jakarta merupakan ide dan pemikirannya sejak ia menjabat sebagai Rektor IAIN Jakarta. Ia menekankan pentingnya lembaga yang menyelenggarakan Pengkajian Islam secara komprehensif, mendalam dan rasional sehingga dapat melahirkan ulama yang mampu berijtihad untuk menjawab masalah-masalah yang timbul pada zamannya. Ide ini mendapat respon positif dari para pendiri dan civitas akademika IAIN Jakarta. Dukungan yang besar juga datang dari Menteri Agama pada saat itu (1978-1982), Prof. Dr. A. Mukti Ali. Ide dan pemikiran Harun Nasution dilaksanakannya dengan mendirikan PPs IAIN Jakarta sebagai PPs yang pertama di lingkungan IAIN di Indonesia. Sesudah itu berdiri pula PPs IAIN Yogyakarta yang dipimpin Prof. Dr. A. Mukti Ali.

Arah pengembangan PPs IAIN Jakarta dirumuskan dan diletakkan dasar-dasarnya oleh Prof. Dr. Harun Nasution dengan mendirikan program studi Pengkajian Islam. Program studi ini selanjutnya dikembangkan dalam berbagai bidang konsentrasi, mengacu kepada pembidangan ilmu agama Islam yang berlaku ketika itu (ditetapkan dalam SK Menteri Agama), yang meliputi Pemikiran Islam, Syari’ah, Tafsir-Hadis, Dakwah, Pendidikan Islam, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Bahasa dan Sastra Arab, dan Perkembangan Modern dalam Islam.

Pada awal berdirinya PPs IAIN Jakarta menyelenggarakan satu program studi tingkat Magister yaitu program studi “Pengkajian Islam” (Dirasat Islamiyyah atau Islamic Studies). Pada tahun 1996/1997 dibuka konsentrasi Syariah, dan pada tahun 1997/1998 dibuka empat konsentrasi lain, yaitu Pemikiran Islam, Tafsir dan Hadis, Sejarah dan Peradaban Islam, dan Islam dan Modernitas. Pada tahun 1988/1999 dibuka tiga konsentrasi lagi, yaitu Pendidikan Islam, Bahasa dan Sastra Arab, dan Dakwah dan Komunikasi. Dalam perkembangan selanjutnya (tahun 1999/2000) konsentrasi Islam dan Modernitas digabungkan ke dalam konsentrasi yang ada, dan dibuka satu konsentrasi lagi yaitu Ekonomi Islam.

Program Doktor dibuka pada tahun 1984 dengan program studi Pengkajian Islam. Mulai tahun akademik 1998/1999 dibuka konsentrasi Syari’ah dan pada tahun-tahun berikutnya dibuka pula konsentrasi Tafsir Hadis, Pemikiran Islam, dan sebagainya sebagai kelanjutan dari program studi yang dibuka pada tingkat Magister yang telah menghasilkan lulusannya.

Pada 2000 Program Magister diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan memperoleh peringkat Unggul berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi No. 025/BAN-PT/Ak-I/S2/IX/2000 tertanggal 19 Desember 2000. Akreditasi berikutnya dilakukan pada 2008 dengan hasil akreditasi A. Pada 14 Maret 2014 Program Magister memperoleh perpanjangan akreditasi berdasarkan keputusan BAN-PT Nomor 079/SK/BAN-PT/Akred/M/III/2014 dengan peringkat A.

Program Doktor diakreditasi pada 2010, dengan predikat A (Sangat Baik), berdasarkan Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi No. 002/BAN-PT/Ak-IX/S3/VI/2010 tertanggal 11 Juni 2010. Pada bulan Desember 2014, program Doktor ini sudah mengajukan untuk akreditasi ulang, dan telah diterima BAN-PT dengan nomor surat 3/715/2456/S3/2014 tanggal 16 Desember 2014. Bulan Mei 2015 Program Doktor memperoleh perpanjangan akreditasi sesuai SK BAN PT Nomor 330/SK/BAN-PT/Akred/D/V/2015, dengan peringkat A dan berlaku sampai tanggal 02 Mei 2020.

Pada 1982-1998, FPs dipimpin oleh Prof. Dr. Harun Nasution. Dalam masa kepemimpinannya, Prof. Dr. Harun Nasution dibantu oleh Dr. Nizamuddin Jr. (Sekretaris Pascasarjana, 1982-1983), Dr. Yunan Yusuf (Sekretaris Pascasarjana, tahun 1983-1985), Dr. Salman Harun (Sekretaris Pascasarjana tahun 1985), Dr. R. H. A. Suminto, Dr. Abdul Aziz Dahlan (Asisten Direktur I, tahun 1992-1997), Dr. A. Wahib Mu’thi (Asisten Direktur II, tahun 1995-1997, Asisten Direktur I tahun 1997-1999) dan Dr. Suwito (Asisten Direktur II, 1997-1999).

Setelah masa kepemimpinan Prof. Dr. Harun Nasution, Direktur PPs dijabat Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al-Munawar, MA. Dalam masa kepemimpinannya ditetapkan adanya Dewan Pertimbangan Akademik (dipimpin oleh Dr. Bahtiar Effendy) dan ketua-ketua konsentrasi, yang meliputi Syari’ah (Dr. H. Satria Efendi M. Zein, MA, digantikan oleh Dr. H. Muhammad Masyhoeri Na’im, MA), Pemikiran Islam (Dr. H. Muslim Nasution sampai 2004, lalu digantikan oleh Prof. Dr. Abdul Aziz Dahlan), Tafsir dan Hadis (Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al-Munawar, MA, dan Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, MA), Sejarah Peradaban Islam (Prof. Dr. Badri Yatim, MA), Pendidikan Islam (Prof. Dr. Suwito, MA), Bahasa dan Sastra Arab (Prof. Dr. H. D. Hidayat, MA), Dakwah dan Komunikasi (Prof. Dr. H. M. Yunan Yusuf) dan Ekonomi Islam (Dr. Ir. H. Murasa Sarkaniputra).

Pada Desember 2004, Direktur PPs dijabat oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, dibantu Dr. Fuad Jabali, MA sebagai Asisten Direktur I (Bidang Akademik), dan Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, MA sebagai Asisten Direktur II (Bidang Umum dan Keuangan). Selanjutnya struktur Ketua Konsentrasi ditiadakan, dan struktur Dewan Pengembangan Akademik (DPA) diperkuat.

Mulai 2007, Program Pascasarjana (PPs) berubah nama menjadi Sekolah Pascasarjana (SPs). Perubahan ini dimaksudkan agar pendidikan pascasarjana bukan ad hoc melainkan menjadi lembaga pendidikan akademik permanen. Pada 2007-2015, SPs dipimpin Prof. Dr. Azyumardi Azra. MA sebagai Direktur, Dr. Fuad Jabali, MA sebagai Deputi Direktur Akademik dan Kerjasama, Dr. Sri Mulyati, MA sebagai Deputi Direktur Administrasi dan Kemahasiswaan, dan Prof. Dr. Suwito, MA sebagai Deputi Direktur Pengembangan Kelembagaan. Pada 2008 Dr. Sri Mulyati, MA digantikan Dr. Udjang Tholib, MA.

Pada masa kepemimpinan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Sekolah Pascasarjana melakukan beberapa kebijakan baru antara lain:

  1. Perubahan nama menjadi Sekolah Pascasarjana.
  2. Perubahan nama Asisten Direktur menjadi Deputi Direktur, yang terdiri atas 3 (tiga) Deputi Direktur. Sebelumnya hanya 2 (dua) Asisten Direktur.
  3. Pemberlakuan kurikulum baru bagi program reguler yang sebelumnya konsentrasi diposisikan sebagai Program Studi, sekarang konsentrasi dikembalikan posisinya sebagai konsentrasi/peminatan studi.
  4. Nama dan substansi mata kuliah bersifat interdisipliner sehingga memungkinkan diambil oleh mahasiswa dari berbagai bidang dan para dosennya juga berasal dari berbagai bidang dan diwujudkan dalam bentuk team teaching.
  5. Penerapan jalur Tesis dan Tugas Akhir untuk Program Magister dan penerapan gelar Master of Philosophy (M.Phil).
  6. Peningkatan pelayanan terhadap mahasiswa untuk percepatan penyelesaian studi. Wujud kebijakan ini antara lain berupa maksimalisasi fungsi dosen Penasehat Akademik (PA), Pembimbing tesis/disertasi di samping percepatan pelayanan bidang administrasi.

Pada Maret 2009 diberlakukan ketentuan baru tentang kurikulum untuk Program Magister dan Program Doktor dengan menambah bobot di bidang kemampuan riset.

Pada 2011-2013 kepemimpinan Sekolah Pascasarjana terdiri atas Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Direktur), Prof. Dr. Suwito, MA (Deputi Direktur Akademik dan Kerjasama), Dr. Yusuf Rahman, MA (Deputi Direktur Administrasi dan Kemahasiswaan), dan Prof. Dr. Amany Lubis, MA (Deputi Direktur Pengembangan Kelembagaan).

Pada April 2013 - Maret 2015 kepemimpinan Sekolah Pascasarjana terdiri atas Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA sebagai Direktur, Prof. Dr. Suwito, MA sebagai Ketua Program Doktor Pengkajian Islam ex officio Wakil Direktur bidang Akademik, Kerjasama dan Pengembangan Lembaga, Dr. Yusuf Rahman, MA sebagai Ketua Program Magister Pengkajian Islam ex officio Wakil Direktur bidang Administrasi, Kemahasiswaan dan Alumni.

Sejak 9 Maret 2015 kepemimpinan SPs mengalami perubahan, yakni Prof. Dr Masykuri Abdillah sebagai Direktur, Prof. Dr. Didin Saepudin, M.A sebagai ketua Program Doktor Pengkajian Islam ex officio Wakil Direktur bidang Akademik, Pengembangan Kelembagaan dan Alumni, Dr. J.M. Muslimin sebagai Ketua Program Magister Pengkajian Islam ex officio Wakil Direktur bidang Administrasi, Keuangan dan Kerjasama.

Pada masa kepemimpinan Prof. Dr Masykuri Abdillah ini SPs menyempurnakan beberapa kebijakan, yakni:

  1. Penyempurnaan kurikulum dengan penggabungan antara kurikulum yang lebih menekankan kepada pendalaman ilmu-ilmu agama Islamdan kurikulum yang menekankan kepada kajian Islam lintas disiplin.
  2. Penghapusan program magister jalur non-tesis dan program doctor by research.
  3. Pengefektifan sistem perkuliahan dengan penyederhanaan anggota Tim Pengajar menjadi 4-5 pengajar.
  4. Penyusunan silabus untuk setiap mata kuliah beserta jadwal pertemuan (tatap muka) bagi masing-masing dosen anggota Tim Pengajar.
  5. Penyempurnaan sistem informasi akademik, dengan penyempurnaan bentuk tampilan konsep, menu dan fitur administrasi akademik.

Sebagai bagian dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pedoman yang berlaku di Sekolah Pascasarjana pada dasarnya mengikuti pedoman akademik UIN Jakarta. Hanya saja, terdapat beberapa kegiatan akademik yang dipertahankan sebagai ciri khas SPs selama ini, seperti kewajiban pengecekan plagiarisme pada penulisan tesis/disertasi, pelaksanaan ujian work in progress (WIP), penggunaan referensi berupa jurnal ilmiah bereputasi nasional dan internasional, dan penerbitan tesis/disertasi dalam bentuk buku yang terregistrasi ISBN.