Ujian Promosi Doktor Ahmad Zaenuri, Adaptasi dan Internalisasi Tradisi Hadrami serta Hegemoni Habaib
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1683 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA pada Senin, 15 Juni 2026 dengan promovendus Ahmad Zaenuri.
Zaenuri merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan konsentrasi Pendidikan Agama Islam. Disertasinya berjudul “Adaptasi dan Internalisasi Tradisi Hadrami serta Hegemoni Habaib pada Pesantren Alkhairaat Sulawesi Tengah”.
Penelitian ini lahir dari sebuah kegelisahan akademik untuk menguji kembali stigma sosiologis yang selama ini melekat pada komunitas Arab Hadrami di Nusantara, yang kerap kali dipandang sebagai kelompok migran yang eksklusif, elitis, dan cenderung menutup diri dari asimilasi budaya lokal.
Melalui eksplorasi ilmiah yang komprehensif, Zaenuri membuktikan secara empiris bahwa realitas di lapangan menunjukkan arah yang sebaliknya. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi, peneliti tidak sekadar menjadi pengamat jarak jauh, melainkan melibatkan diri secara langsung dalam aktivitas kultural di lapangan untuk menangkap denyut nadi kehidupan, makna terdalam, serta interaksi sosial sesehari di lingkungan Pesantren Alkhairaat, Sulawesi Tengah.
Hasil penelitian lapangan ini berhasil mengidentifikasi bahwa proses adaptasi tradisi ḥaḍramī di dalam institusi Alkhairaat tidak berjalan kaku, melainkan mewujud ke dalam tiga pola utama. Pola pertama adalah adaptasi substantif, yang ditandai dengan pengadopsian secara utuh karya-karya klasik ulama ḥaḍramī, namun dalam tataran praktis pelaksanaannya tetap mengalami kontekstualisasi dan penyesuaian yang elastis dengan ritme kehidupan santri setempat.
Pola kedua yang ditemukan peneliti adalah adaptasi kontekstual, sebuah kelenturan budaya yang mana praktik-praktik keagamaan umum dalam tradisi ḥaḍramī ditarik ke ruang publik dengan melakukan penyelarasan kultur sosiologis lokalitas Sulawesi Tengah. Sementara pola ketiga merupakan pola legitimasi sosial-keagamaan, sebuah struktur yang memberikan pengakuan kultural terhadap posisi kalangan sayyid (keturunan Nabi) sebagai strata sosial tertinggi dalam hierarki komunitas tersebut.
Kelenturan tradisi ini pada gilirannya merembes kuat ke dalam cetak biru institusional, di mana sistem dan kurikulum pendidikan Alkhairaat merefleksikan proses adaptasi dan sintesis yang sangat dinamis. Lembaga ini secara piawai memadukan pelbagai model pendidikan, mulai dari sistem ribaṭ Hadhramaut yang tradisional, sekolah umum sekuler, pesantren khas Jawa, hingga integrasi kontemporer antara keilmuan umum dan ilmu agama.
Meskipun memiliki daya adaptasi kurikulum yang luar biasa, riset ini memberikan catatan kritis bahwa corak tradisionalisme di Alkhairaat masih terasa sangat kuat. Akibatnya, dalam beberapa aspek sosiologis, lembaga ini dinilai belum sepenuhnya mampu melebarkan sayapnya secara fleksibel guna menjangkau, merangkul, dan memikat kelas menengah muslim perkotaan secara luas dan masif.
Di sisi lain, potret hegemoni ḥabāib yang terjadi di tubuh Alkhairaat dipetakan secara rigid oleh Zaenuri melalui penguasaan tiga pilar sumber daya strategis. Pilar pertama adalah penguasaan jalur pendidikan dan transformasi nilai-nilai Islam, yang dibuktikan secara kuantitatif melalui kepemimpinan para ḥabāib di berbagai cabang Alkhairaat, termasuk menguasai sekitar 36,4% dari total seluruh pesantren yang tersebar di wilayah Kota Palu.
Pilar kedua bergerak pada wilayah spiritual, di mana trah ḥabāib memegang kendali kepemimpinan yang kuat pada berbagai lembaga sosial keagamaan strategis di tingkat regional, salah satunya di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sementara pilar ketiga mencakup penguasaan di bidang sosial dan politik, yang ditandai dengan kiprah nyata beberapa elite dan representasi Alkhairaat yang sukses menembus panggung politik, baik sebagai tokoh politik lokal maupun nasional.
Melalui benang merah analisisnya, Zaenuri menyimpulkan bahwa adaptasi budaya, internalisasi tradisi, serta hegemoni ḥabāib tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi tiga pilar sinergis yang menunjang keberlangsungan dan eksistensi Pesantren Alkhairaat hingga era modern saat ini. Adaptasi dan internalisasi budaya digunakan sebagai strategi penyesuaian agar nilai-nilai yang dibawa mudah diterima masyarakat lokal, sedangkan hegemoni ḥabāib berfungsi mengokohkan legitimasi keagamaan lembaga.
Secara teoretis, temuan beralur etnografis ini berhasil memperkuat tesis Martin Slama (2011) tentang dinamika translokal komunitas ḥaḍramī, Syamsul Rijal (2022) terkait daya tarik simbolis sādah, serta Kevin W. Fogg (2018) mengenai pembentukan karisma ḥabāib. Di saat yang sama, penelitian ini dengan tegas menolak tesis Frode Jacobsen (2007) yang menyuarakan mitos eksklusivisme Hadrami, serta mendukung teori Azyumardi Azra (2003) dan Muhammad Zuhdi (2021) mengenai karakteristik dinamis pesantren serta pola kemitraan sektor publik-swasta dalam dunia pendidikan.
Zaenuri berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Dr. Zulkifli, MA dan Prof. Muhammad Zuhdi, M.Ed, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Muhammad Zuhdi, M.Ed, Ph.D, Prof. Dr. Rusli, S.Ag, M.Soc.Sc, Prof. Dr. Hamid Nasuki, M.Ag, Dr. Suwendi, M.Ag.
Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Ahmad Zaenuri lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Ahmad Zaenuri merupakan Doktor ke-1683 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)
