Ujian Promosi Doktor Ali Alkosibati, Diskursus Perdamaian Sipil dalam Tafsir Modern: Dialektika Nalar dan Wahyu menurut Tiga Pemikir Kontemporer
Ujian Promosi Doktor Ali Alkosibati, Diskursus Perdamaian Sipil dalam Tafsir Modern: Dialektika Nalar dan Wahyu menurut Tiga Pemikir Kontemporer

Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1675 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA pada Kamis, 16 April 2026 dengan promovendus Ali Alkosibati.

Ali merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Bahasa dan Sastra Arab. Disertasinya berjudul “القراءات التأويلية المعاصرة للقرآن الكريم وأثرها في فهم آيات السلم الأهلي: دراسة تحليلية نقدية مقارنة بين محمد عابد الجابري ونصر أبو زيد وطه عبد الرحمن"

Penelitian Ali memfokuskan pada pemikiran tiga raksasa intelektual Arab, yakni Muhammad Abid al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Taha Abdurrahman. Ketiganya dikenal memiliki pendekatan hermeneutika yang sangat berpengaruh, namun juga kerap memantik diskusi hangat hingga perdebatan tajam di panggung akademik dunia. Ali mengupas tuntas bagaimana gagasan besar mereka berimplikasi langsung pada pemaknaan ayat-ayat al-silm al-ahli atau perdamaian sipil dalam realitas kehidupan modern yang kompleks.

Satu temuan krusial yang diungkap Ali dalam studinya adalah adanya gejala "diskoneksi" atau al-infisal yang menjangkiti metodologi ketiga tokoh tersebut. Ali secara kritis berargumen bahwa di balik kontribusi besar mereka, terdapat keterputusan yang menghambat pemahaman utuh terhadap teks suci. Al-Jabiri dinilai memutus teks dari akar peradabannya, Abu Zayd memisahkan teks dari dimensi Ilahiah melalui historisitas, sementara Taha Abdurrahman cenderung menjauhkan teks dari peran legal-legislatif demi mengejar idealisme etis.

Lebih dalam lagi, Ali menjelaskan bahwa kesenjangan epistemologis ini mengakibatkan interaksi manusia terhadap al-Qur’an menjadi terfragmentasi atau tidak utuh. Al-Jabiri terjebak dalam sekat "keterputusan epistemologis" yang kaku, sedangkan Abu Zayd terlalu mengeksploitasi aspek kemanusiaan teks hingga mengaburkan sisi transendentalnya. Sementara itu, pendekatan filosofis Taha Abdurrahman dianggap terlalu melangit sehingga fungsi praktis hukum al-Qur’an dalam mengatur tatanan masyarakat menjadi kurang nyata.

Sebagai antitesis sekaligus solusi atas problematika tersebut, Ali Alkosibati menawarkan sebuah konstruksi metodologi baru yang ia namakan pendekatan hermeneutika integratif. Tawaran ini hadir untuk menjembatani jurang yang selama ini memisahkan antara teks, nalar, dan realitas sosiologis. Menggunakan metode kualitatif analitis-kritis, ia merumuskan kerangka kerja yang tidak hanya memahami teks dari sisi linguistik, tetapi juga mendudukkannya di atas landasan legal, etis, dan praktis secara simultan.

Pendekatan integratif yang diusung Ali ini berdiri kokoh di atas empat pilar utama: bayani sebagai kunci pembuka aspek linguistik, burhani untuk proses deduksi rasional, akhlaqi (etis) sebagai tolok ukur kebenaran moral, dan amali (praktis) sebagai muara tindakan. Melalui sintesis ini, al-Qur’an tidak lagi dipandang sekadar sebagai dokumen sejarah atau teori etis semata, melainkan pedoman hidup yang mampu menyelaraskan pengetahuan dengan perilaku dan wacana dengan realitas sosial.

Guna membuktikan efektivitas teorinya, Ali mengaplikasikan pendekatan ini pada konsep "Perdamaian Sipil" di tengah masyarakat Islam. Ia menelaah bagaimana ayat-ayat suci dapat ditransformasikan menjadi fondasi bagi supremasi hukum, keadilan sosial, kesetaraan, hingga dialog pluralisme. Hasilnya sangat meyakinkan; pemahaman yang integratif terhadap teks suci terbukti menjadi kunci krusial dalam membangun stabilitas politik dan sosial yang berkelanjutan di era sekarang.

Keunikan studi yang dilakukan Ali terletak pada keberaniannya mengungkap "kesenjangan bersama" yang ada pada tokoh-tokoh besar tersebut. Jika banyak penelitian sebelumnya hanya berfokus pada satu tokoh atau satu aspek teoretis, Ali melangkah lebih jauh dengan menyodorkan solusi aplikatif bagi pengembangan masyarakat. Ia menekankan bahwa sentralitas al-Qur'an al-Karim harus mampu menjawab problem nyata yang dihadapi oleh umat manusia secara praktis dan menyeluruh.

Ali berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA dan Prof. Dr. Hamka Hasan, MA, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. JM Muslimin, MA, Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Prof. Dr. Hamka Hasan, MA, Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Prof. Kusmana, MA, Ph.D, Prof. Dr. Saifuddin Herlambang, MA.

Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Ali Alkosibati lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Ali Alkosibati merupakan Doktor ke-1675 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)