Ujian Promosi Doktor Kholis Ridho, Hubungan Identitas Sosial dan Perilaku Kultural Masyarakat Muslim
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1671 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA pada Kamis, 9 April 2026 dengan promovendus Kholis Ridho.
Kholis merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Antropologi dan Soiologi Agama. Disertasinya berjudul “Hubungan Identitas Sosial dan Perilaku Kultural Masyarakat Muslim di Provinsi Jawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat”.
Penelitian ini berangkat dari kegelisahan intelektual terhadap polarisasi teori identitas. Di satu sisi, identitas dianggap sebagai warisan historis yang statis, namun di sisi lain dipandang sebagai hasil negosiasi yang sangat fleksibel. Kholis hadir di tengah celah akademik tersebut untuk menawarkan argumen baru: bahwa identitas sosial masyarakat muslim kontemporer, terutama di era transformasi digital, memiliki karakteristik yang jauh lebih kompleks daripada sekadar hitam-putih antara "cair" atau "diwariskan".
Menggunakan paradigma post-positivisme dengan pendekatan sosiologi dan antropologi, Kholis merancang penelitian yang ambisius. Melalui metode mix-methods, ia menggabungkan kekuatan data kuantitatif dari 323 responden dengan kedalaman data kualitatif melalui observasi partisipatif. Wilayah penelitian yang dipilih pun sangat representatif, mencakup daerah dengan karakteristik mono-kultural hingga multikultural yang tersebar di lima provinsi besar di Indonesia.
Salah satu daya tarik riset ini adalah penggunaan kerangka kerja Pierre Bourdieu seperti konsep habitus, modal, dan ranah yang kemudian diperluas dengan perspektif identitas in-group dan out-group. Kholis tidak hanya melihat agama sebagai dogma, tetapi mengujinya sebagai praktik kultural yang berinteraksi dengan modal sosial, ekonomi, hingga modal virtual yang kini mendominasi kehidupan masyarakat melalui internet.
Temuan menarik terungkap saat data diolah dengan analisis regresi berganda. Terbukti bahwa orientasi kemajemukan wilayah, baik itu lingkungan yang homogen maupun heterogen, memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku kultural seseorang. Secara simultan, variabel seperti identitas kategoris, usia, hingga "ranah digital" mampu menjelaskan perubahan perilaku kultural masyarakat hingga mencapai angka 82,6 persen.
Kholis memperkenalkan konsep "Identitas Majemuk" (Multiple Identity) sebagai sintesa baru. Menurutnya, identitas seorang muslim bisa bersifat tetap dalam hal doktrin teologis namun menjadi sangat cair saat bersentuhan dengan interaksi sosial. Ia membedakan antara "kesalehan transendental" yang bersifat vertikal dengan "kesalehan kultural" yang merupakan hasil dari proses habituasi dan akomodasi sosial.
Lebih jauh, riset ini mengusulkan agar proses identifikasi muslim tidak hanya dilihat dari sisi sosiogenesis, tetapi juga melalui konsep ethnoheterogenisis. Hal ini dikarenakan perpindahan keyakinan atau orientasi dalam Islam sering kali merupakan kritik ontologis atas sebuah nilai, bukan sekadar mengikuti arus sosial semata. Pandangan ini memberikan napas baru dalam melihat dinamika perpindahan madzhab dan keyakinan di Indonesia.
Di era teknologi, Kholis juga menyoroti peran "modal virtual". Ia berargumen bahwa perluasan ranah digital telah melahirkan "kesalehan virtual" yang performatif di media sosial. Hal ini berbeda dengan modal tradisional (budaya dan simbolik) yang lebih banyak digunakan untuk mengekspresikan kesalehan dalam realitas luring (offline). Temuan ini sangat relevan untuk memahami mengapa perilaku keberagamaan di layar ponsel bisa berbeda dengan di kehidupan nyata.
Kesehatan mental dan spiritualitas juga muncul sebagai modal baru dalam konsep kesalehan. Kholis menekankan bahwa ketaatan ibadah wajib seharusnya dipandang melalui perspektif teologi-emansipatoris. Artinya, agama harus dipahami sebagai kekuatan yang membebaskan manusia dari belenggu psikososial, bukan justru menjadi sumber kecemasan atau keterbatasan dalam berinteraksi dengan dunia multikultural.
Dengan data yang divalidasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS), riset ini memberikan peta jalan bagi para pengambil kebijakan dan akademisi dalam memahami bagaimana identitas muslim Indonesia terus bergerak dinamis di tengah arus globalisasi dan transformasi digital yang kencang.
Kholis Ridho berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Dr. Jamhari, MA, Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, MA dan Prof. Dr. Dzuriyatun Toyibah, M.Si, MA, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Dr. Jamhari, MA, Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, MA, Prof. Dr. Dzuriyatun Toyibah, M.Si, MA, Prof. Dr. Jajat Burhanudin, MA, Prof. Dr. Media Zainul Bahri, MA dan Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si.
Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Kholis Ridho lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Kholis Ridho merupakan Doktor ke-1671 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)
