Ujian Tesis Mutia El Ilmi Putri Nasution: Implementasi Moderasi Beragama melalui Institusionalisasi Pengaderan di Pesantren
Ujian Tesis Mutia El Ilmi Putri Nasution: Implementasi Moderasi Beragama melalui Institusionalisasi Pengaderan di Pesantren

Ruang Teater SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Tesis ke-2803 bertempat di Ruang Teater SPs UIN Jakarta pada Rabu, 18 Februari 2026 dengan kandidat Mutia El Ilmi Putri Nasution.

Mutia merupakan mahasiswa program Magister Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Dakwah dan Komunikasi. Tesisnya berjudul “Implementasi Moderasi Beragama melalui Institusionalisasi Pengaderan di Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) Ki Bagus Hadikusumo Bogor”.

Penelitian ini lahir dari kegelisahan akademik terhadap lanskap dakwah kontemporer yang kian terbuka namun terfragmentasi, yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat menjadi celah bagi paham radikalisme.

Di hadapan para penguji, Mutia menjelaskan bahwa fokus risetnya menyasar pada dua dimensi krusial. Pertama adalah aspek implementasi kebijakan dalam pembentukan kader dai moderat yang mencakup komunikasi, sumber daya, disposisi, hingga struktur birokrasi. Kedua adalah bagaimana nilai moderasi tersebut "mengakar" secara institusional melalui kerangka regulatif, normatif, dan kognitif budaya pesantren.

Menariknya, tesis ini menggunakan kacamata kebijakan Moderasi Beragama yang dipayungi oleh Kementerian Agama RI tahun 2019. Dengan metode kualitatif dan paradigma konstruktivisme, Mutia melakukan investigasi lapangan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi yang mengintegrasikan disiplin ilmu dakwah dengan ilmu komunikasi.

Dalam argumennya, Mutia menggunakan pisau analisis teori implementasi kebijakan George C. Edwards III dan teori institusi Richard W. Scott. Ia menekankan bahwa lembaga pendidikan Islam memegang peranan vital dalam menginternalisasi nilai-nilai waṣaṭiyyah melalui kurikulum dakwah yang berbasis pada prinsip tablīgh, taghyīr, takwīn al-ummah, dan khayriyyah al-ummah.

Hasil temuan di MBS Ki Bagus Hadikusumo Bogor menunjukkan bahwa moderasi telah diinstitusionalisasikan melalui tiga pilar kokoh. Secara regulatif, hal ini terlihat pada tata tertib dan mekanisme pengawasan. Secara normatif, nilai tanggung jawab dan kepemimpinan kolektif menjadi napas kegiatan, sementara secara kognitif-budaya, keteladanan guru menjadi kunci pembiasaan santri.

Dinamika komunikasi di dalam pesantren juga terpotret secara unik. Mutia menemukan adanya pola dialogis yang cair antara pendidik dan santri, meskipun di level pimpinan masih didominasi oleh pola instruksional. Hal ini menunjukkan adanya struktur birokrasi yang jelas dalam menjaga stabilitas nilai-nilai yang diajarkan.

Terkait sumber daya, riset ini mengungkap bahwa meskipun SDM yang tersedia sudah memadai, penyebarannya belum sepenuhnya merata. Para pelaksana kebijakan di lapangan menunjukkan disposisi atau sikap yang positif terhadap nilai moderasi, namun Mutia memberikan catatan kritis bahwa evaluasi sistemik di lembaga tersebut masih perlu dioptimalkan.

Salah satu poin paling menarik dalam ujian ini adalah keberanian Mutia melakukan "provokasi akademik" dengan menolak tesis dari beberapa peneliti sebelumnya. Ia secara tegas membantah pernyataan Feri Samandes (2021) serta Dedi Sahputra Napitupulu dan Hefni (2020) yang menyebutkan bahwa moderasi beragama di pesantren selama ini sudah berjalan efektif secara mutlak.

Bagi Mutia, klaim efektivitas tersebut perlu ditinjau ulang karena proses institusionalisasi adalah perjalanan yang berkelanjutan, bukan hasil instan. Meski demikian, ia tetap berdiri di garis yang sama dengan para pendahulunya dalam memandang pesantren sebagai benteng pertahanan utama untuk menyemai nilai toleransi melalui jalur kaderisasi dakwah.

Keberhasilan Mutia dalam mempertahankan tesis ini diharapkan tidak hanya menjadi kontribusi teoretis bagi ilmu dakwah dan komunikasi, tetapi juga menjadi panduan praktis bagi pesantren-pesantren di Indonesia dalam mencetak dai yang moderat, toleran, dan berkemajuan.

Mutia berhasil mempertahankan tesisnya di bawah bimbingan Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA, Dr. Arief Subhan, M.Ag, Dr. Iding Rosyidin, M.Si.

Setelah memperhatikan penulisan tesis, komentar tim penguji dan jawaban kandidat, tim penguji menetapkan bahwa Mutia lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Mutia El Ilmi Putri Nasution merupakan Magister ke-2803 dalam bidang Pengkajian Islam, pada program Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)