Mengawal Zaman dengan Iman, SPs menyelenggarakan Bedah Buku “Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah”
Mengawal Zaman dengan Iman, SPs menyelenggarakan Bedah Buku “Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah”

Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Workshop Ilmiah bertajuk bedah buku "Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah" karya ulama terkemuka dunia, Syekh Abdullah Ben Bayyah. Bertempat di Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA, pada Kamis, 1 Oktober 2026, agenda ini menjadi magnet bagi para akademisi dan mahasiswa yang ingin menggali kedalaman pemikiran spiritual di era modern.

Diskusi ini menghadirkan deretan narasumber dari dalam dan luar negeri. Hadir Prof. Dr. M. Sholahuddin Al-Mustawi (Sekjen Majelis Ilmi Tertinggi Tunisia), Prof. Dr. Zulkifli, MA (Direktur SPs UIN Jakarta), Dr. Muhammad Mahjub ben Bayyah (Penasihat Abu Dhabi Forum for Peace), Khawla Al-Husani (Direktur Riset Abu Dhabi Forum for Peace), serta Dr. Yuli Yasin, MA (Dekan Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Jakarta). Diskusi berjalan interaktif di bawah panduan moderator Dr. Alvian Iqbal Zahasfan, MA.

Mengawali sesi pemaparan, Prof. Dr. M. Sholahuddin Al-Mustawi membedah gagasan utama buku tersebut dengan pendekatan khas ulama Tunisia. Secara khusus, ia mengaitkan nilai-nilai keimanan yang diusung Syekh Ben Bayyah dengan kacamata epistemologi pencerahan ala Syekh Ibnu 'Asyur, yang menekankan pentingnya pemahaman keagamaan kontekstual namun tetap berakar kuat pada tradisi keilmuan Islam.

Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 1 Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 2
Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 3 Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 4

Selanjutnya, Prof. Dr. Zulkifli, MA menegaskan bahwa keimanan memiliki spektrum yang jauh lebih luas dari sekadar dogmatisme atau keyakinan individual. Iman, menurutnya, harus menjadi fondasi epistemologis, sumber ketenangan spiritual, penunjuk arah moral, hingga energi sosial yang mendorong perdamaian serta kemaslahatan publik di tengah gempuran arus modernisasi.

Dalam pandangan Prof. Zulkifli, agenda penting pemikiran Syekh Ben Bayyah mencakup penguatan spiritualitas, pemanduan antara wahyu, akal, dan sains, serta penyampaian dakwah yang ramah dan berbasis dialog. Poin kunci lainnya meliputi perlawanan terhadap ekstremisme tanpa kekerasan, penguatan literasi digital, pengembangan fikih yang adaptif, perluasan pendidikan perdamaian, hingga kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Gagasan universal tersebut dinilai sangat relevan bagi bangsa Indonesia yang hidup dalam bingkai kemajemukan. Tantangan terbesar masyarakat plural seperti Indonesia adalah bagaimana menerjemahkan ide-ide besar ini ke dalam tindakan nyata di ranah sosial, budaya, pendidikan, dan keagamaan agar perbedaan dapat dikelola secara harmonis dan konstruktif.

Di sinilah letak nilai strategis dari penyelenggaraan bedah buku ini. Kegiatan akademik tersebut tidak sekadar menjadi ajang mengagumi pemikiran seorang ulama, tetapi juga pemicu bagi umat untuk berefleksi: bagaimana iman tetap relevan menuntun zaman, dan bagaimana nilai-nilai spiritual mampu menjadi perekat di tengah ancaman disintegrasi dan fragmentasi sosial.

Jawaban atas tantangan zaman tersebut bukanlah dengan menutup diri dari perubahan, melainkan merangkulnya melalui fondasi iman yang kokoh, penguasaan ilmu yang mendalam, keluhuran akhlak, keterbukaan dialog, serta tanggung jawab moral terhadap kemanusiaan dan alam semesta.

Dengan paradigma ini, keimanan di era yang terus bergerak cepat tidak akan pernah tertinggal oleh zaman. Sebaliknya, iman yang hidup dan dinamis justru hadir sebagai kompas spiritual yang memberi arah dan makna bagi peradaban manusia.

Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 5 Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 6
Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 7 Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 8

Suasana diskusi semakin hangat saat Dr. Muhammad Mahjub ben Bayyah memaparkan materinya. Cucu dari Syekh Ben Bayyah ini menyampaikan apresiasi yang mendalam atas sambutan hangat dari sivitas akademika SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia menegaskan kembali pesan sang kakek bahwa iman sejatinya harus mengantarkan manusia lebih dari sekadar pengakuan lisan menuju pengenalan yang mendalam.

Lebih lanjut, Dr. Mahjub menekankan bahwa spiritualitas sejati adalah spiritualitas yang menuntun manusia bergerak dari jarak menuju dialog, serta mengubah perbedaan menjadi jembatan kerja sama dalam menebar kebaikan bersama. Iman harus mampu menjadi energi kolektif yang meruntuhkan sekat-sekat pemisah antarmanusia.

Sementara itu, Khawla Al-Husani mengajak peserta untuk menyelami fondasi epistemologi pengetahuan. Ia menjelaskan bahwa sebelum membicarakan iman, seseorang perlu memahami alat-alat untuk memperoleh pengetahuan. Alat tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu Hiss (indera) untuk mengamati alam material, 'Aql (akal) untuk penalaran dan penyimpulan logis, serta Khabar dan Wahyu sebagai sumber informasi perkara metafisika yang tak terjangkau indera maupun akal.

Khawla mengingatkan bahwa ketiga instrumen pengetahuan tersebut saling melengkapi dan bukan kompetitor yang saling meniadakan. Kesalahan epistemologis sering kali terjadi ketika seseorang memaksakan satu alat pengetahuan untuk mengukur semua jenis realitas. Meski sains modern unggul dalam observasi dan eksperimen, keterbatasan jangkauan indera tidak serta-merta menjadi bukti ketiadaan realitas spiritual.

Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 9 Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 10
Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 12 Bedah Buku Keimanan di Tengah Dunia yang Terus Berubah spsuinjkt 11

Meskipun arus digitalisasi dan komunikasi lintas budaya berkembang sangat pesat, perubahan pola pikir manusia tidak pernah menghilangkan kebutuhan hakiki terhadap iman. Dalam hal ini, iman tidak perlu takut pada kemajuan ilmu pengetahuan, sebagaimana akal juga dituntut untuk bijak dan tidak melampaui batas kewenangannya.

Sebagai penutup sesi narasumber, Dr. Yuli Yasin, MA memaparkan studinya melalui pendekatan fikih, usul fikih, dan maqashid asy-syariah. Ia menegaskan sejak awal bahwa formulasinya merupakan bentuk pembacaan dan analisis pribadinya terhadap karya Syekh Ben Bayyah, bukan sekadar kutipan teks secara langsung.

Dr. Yuli menggarisbawahi prinsip utama “tsabat al-ushul wa murunat al-wasail”, keteguhan pada prinsip dasar dan keluwesan dalam sarana penerapannya. Dengan mempertemukan iman, pembaruan (tajdid), fikih perubahan (fiqh al-taghyir), serta tujuan syariat (maqashid asy-syariah), pemikiran ini menjadi sangat elastis dan aplikatif saat ditarik ke dalam konteks dinamika keindonesiaan.

Melalui penyelenggaraan workshop ilmiah ini, SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berharap dapat membuka wawasan para mahasiswa dan akademisi secara lebih luas. Pemahaman mendalam tentang keimanan diharapkan menjadi bekal berharga dalam merespons dinamika era modern yang terus berubah.(AIZ/JA)