Menjembatani Keberagaman: SPs UIN Jakarta Resmi Buka Asia-Pacific Theological Encounter Program (APTEP) 2026
Gedung SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Langkah nyata dalam merajut harmoni global kembali ditunjukkan oleh Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Melalui atmosfer akademik yang hangat, SPs UIN Jakarta resmi membuka gelaran Asia-Pacific Theological Encounter Program (APTEP) di ruang Teater Gedung SPs UIN Jakarta pada Rabu (1/7/2026). Program ini dirancang menjadi ruang perjumpaan yang inklusif untuk memperdalam kajian keislaman sekaligus memperkokoh jembatan dialog lintas agama di kawasan Asia-Pasifik.
Sebanyak 23 peserta yang berasal dari sembilan negara berbeda berkumpul dengan satu misi besar: meruntuhkan sekat prasangka dan membangun saling pengertian. Selama 12 hari ke depan, para peserta dari latar belakang budaya dan keyakinan yang beragam ini akan menyelami kekayaan tradisi Islam, khususnya dalam konteks Indonesia yang dikenal moderat dan toleran.
Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, MA, menjelaskan bahwa hari pertama sengaja difokuskan untuk sesi penyambutan dan orientasi. Sesi awal ini krusial sebagai sarana mencairkan suasana dan membangun kedekatan emosional antarpeserta. Keakraban yang terbangun sejak dini diharapkan mampu menciptakan ruang diskusi yang lebih terbuka dan mendalam saat rangkaian diskusi intensif dimulai pada Kamis (2/7/2026).
Untuk memberikan pemahaman yang utuh, SPs UIN Jakarta telah menyiapkan ruang diskusi yang komprehensif. Dosen SPs UIN Jakarta siap membagikan ilmu mereka. Mulai dari Prof. Dr. Zulkifli, MA yang akan mengulas Islamic Sufism in Indonesia, hingga Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA dengan materi menarik bertajuk One Islam/Quran, Many Interpretations. Isu kontekstual seperti dinamika hubungan Islam Indonesia dan Timur Tengah juga akan dibedah oleh Hamdani, M.Ag, Ph.D.
Tidak kalah penting, para peserta juga akan diajak menyelami materi hukum dan sejarah hubungan antarumat beragama. Prof. Dr. JM Muslimin, MA akan membawakan materi Islamic Legal Thought on Non Muslim, disusul oleh Dr. Fuad Jabali, MA yang mengulik relasi historis antara Nabi Muhammad SAW dengan komunitas Kristen dan Yahudi. Selain itu, wajah Islam modern juga akan dipaparkan oleh Prof. Dr. Arif Zamhari, M.Ag, Ph.D mengenai dunia pesantren yang kini bersanding dengan Artificial Intelligence (AI), serta Prof. Amelia Fauzia, Ph.D yang menyoroti peran perempuan dalam filantropi Islam.

Menariknya, salah satu pengantar penting mengenai kelenturan hukum Islam disampaikan langsung oleh Prof. Dr. JM. Muslimin, MA. Ia mengambil contoh sederhana namun kerap memicu tanya, yaitu hukum bersalaman antara laki-laki dan perempuan. Isu harian ini digunakannya untuk menunjukkan betapa kayanya ruang ijtihad di kalangan ulama, di mana ada yang melarang namun ada pula yang membolehkannya dalam kondisi tertentu tergantung perspektif yang digunakan.
“Perspective in seeing Islamic law, like some questions today, why are people not shaking hands between male and female, so this is a disputed aspect of Islam... so we may conclude that our program will be introducing the interdisciplinary perspective of Islam,” ujar Prof. JM Muslimin, menegaskan bahwa perbedaan pandangan adalah kekayaan tradisi keilmuan Islam.
Antusiasme tinggi terpancar dari salah satu peserta yaitu, Abel Ogona. Mahasiswa asal Kenya yang saat ini sedang menempuh studi di Manila ini mengaku sangat bersemangat mengikuti APTEP 2026. Baginya, pengalaman berinteraksi dengan masyarakat Muslim di masa lalu telah memantik rasa ingin tahu yang besar untuk memahami Islam secara lebih otentik dan ilmiah.
"Saya ingin tahu lebih banyak tentang Islam dan bersiap untuk dialog antaragama. Karena saya pernah tinggal dan berinteraksi dengan Muslim, saya merasa butuh pengetahuan yang lebih mendalam agar bisa membangun percakapan yang bermakna dan memahami bagaimana kekristenan dan Islam saling berhubungan," ungkap Abel penuh harap.
Kesan mendalam juga datang dari peserta lokal, Suster Fernanda Sebe. Tumbuh besar dalam keluarga yang memiliki latar belakang Katolik dan Islam membuatnya merasa sangat bersyukur bisa berada di program ini. Bertemu dengan rekan sejawat dan pengajar dari berbagai belahan dunia menjadi momen refleksi yang berharga untuk mendukung pengabdian religiusnya.
"Bagaimana sih muslim itu? Sehingga saya bisa memahami lebih dalam juga tentang muslim, untuk berjumpa dengan saudara-saudara muslim di dalam pelayanan saya, di dalam panggilan saya sebagai seorang religius. Dan juga lebih memahami saudara-saudara saya," tutur Suster Fernanda dengan senyum hangat.
Program APTEP tahun ini ahun ini diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai negara, yakni Vietnam, Korea Selatan, Italia, Amerika Serikat, Myanmar, Filipina, Kenya, hingga tuan rumah Indonesia. Melalui kolaborasi global ini, SPs UIN Jakarta kembali meneguhkan posisinya sebagai kiblat kajian Islam moderat yang inklusif dan transformatif di panggung internasional. (Khoirillah/Zaenal M./Fajri Nafisa/Jay A)
