SPs UIN Jakarta dan Pascasarjana UIN Mataram Gelar Konferensi Internasional tentang Keseimbangan Ilahi di Era Digital
LOMBOK –Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berkolaborasi dengan UIN Mataram menggelar perhelatan akbar tahunan: The 9th International Colloquium on Interdisciplinary Islamic Studies (ICIIS) 2026. Forum ini menjadi episentrum diskusi intelektual global yang mempertemukan ratusan akademisi lintas negara.
Bertempat di Jayakarta Hotel, Mataram-Lombok, konferensi berskala internasional ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai dari Senin hingga Kamis, 18-21 Mei 2026. Atmosfer akademik yang kental langsung terasa sejak hari pertama, memadukan pesona lokal dengan gagasan-gagasan kosmopolitan.
Tahun ini, ICIIS ke-9 mengusung tema yang sangat krusial dan relevan dengan realitas kontemporer, yaitu “Divine Balance in a Digital Age: Islamic Studies Response to Climate Change and Technological Hegemony”. Tema ini sengaja diangkat untuk menyoroti kebutuhan mendesak umat manusia dalam mengatasi krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan. Di saat yang sama, dunia juga sedang berhadapan dengan transformasi teknologi yang melesat cepat, yang membutuhkan panduan etis dan spiritual.
Melalui tema tersebut, para pemikir Islam ditantang untuk menggali kembali akar tradisi Islam guna mempertahankan keseimbangan etis dan spiritual di tengah disrupsi modern. Islam tidak boleh gagap menghadapi realitas kecerdasan buatan ataupun pemanasan global. Sebaliknya, nilai-nilai profetik justru harus menjadi kompas moral bagi peradaban digital saat ini.
Geliat konferensi sudah memuncak sejak hari pertama melalui Parallel Session yang dirancang secara hybrid. Kehangatan akademik berlanjut pada Plenary Session 1 yang dibuka dengan opening speech dari Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Prof. Dr. Zulkifli, MA. Dalam sambutannya, Prof. Zulkifli memberikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh jajaran panitia ICIIS dan GIC 2026 yang telah bekerja keras mewujudkan forum ini.
Lebih lanjut, Prof. Zulkifli menegaskan harapannya agar studi Islam masa kini tidak lagi terjebak dalam ruang-ruang yang sifatnya normatif dan tekstual semata. Beliau mendorong adanya reposisi agar studi Islam tampil lebih transformatif. Artinya, hasil-hasil pemikiran keagamaan harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi keberlanjutan peradaban serta mendukung pembangunan global yang berkelanjutan.
Sesi pleno pertama ini menghadirkan narasumber internasional, salah satunya adalah Prof. Dr. Arndt Graf dari Goethe-Universität Frankfurt am Main, Jerman. Diskusi ini dipandu oleh moderator Prof. Arif Zamhari, M.Ag, Ph.D.
Dalam paparannya, Prof. Dr. Arndt Graf mengupas tuntas dinamika studi Islam kontemporer dari kacamata perspektif global. Ia menyoroti bagaimana hubungan segitiga antara agama, demokrasi, dan masyarakat digital saling memengaruhi dan membentuk realitas sosial baru di Eropa maupun dunia Islam.
Tidak kalah memukau, pembicara kedua yaitu Prof. Dr. Muhammad Munir dari Pakistan International Islamic University tampil membawa perspektif keadilan. Prof. Munir mengangkat poin penting mengenai urgensi kolaborasi yang solid di antara dunia Islam guna membangun paradigma pendidikan yang kokoh.
Menurut Prof. Munir, peradaban Islam masa depan harus berorientasi pada keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Tanpa adanya keadilan dan kelestarian alam, kemajuan teknologi mutakhir hanya akan melahirkan ketimpangan baru yang merugikan kemanusiaan.
Memasuki hari kedua, acara diawali dengan laporan komprehensif dari Ketua Panitia ICIIS ke-9 tahun 2026, Prof. Dr. JM. Muslimin, MA. Dalam laporannya, Prof. JM Muslimin menyampaikan bahwa konferensi internasional ini merupakan manifestasi nyata dari komitmen akademik perguruan tinggi Islam.
Komitmen tersebut diwujudkan dalam bentuk penguatan tradisi keilmuan yang bersifat interdisipliner, kolaboratif, serta responsif terhadap segala dinamika global. Ia menyebutkan bahwa tema “Divine Balance in a Digital Age” dipilih sebagai refleksi mendalam atas meningkatnya tantangan kemanusiaan akibat bertubrukannya disrupsi teknologi dan krisis lingkungan yang kompleks.
Prof. JM. Muslimin juga menambahkan bahwa kolokium ini menjadi momentum untuk memperkuat jejaring akademik internasional. Forum ini diharapkan memicu lahirnya penelitian-penelitian interdisipliner baru yang lebih segar. Kerja sama yang terjalin untuk kedua kalinya antara UIN Jakarta dan UIN Mataram ini juga menandakan sinyal kuat akan adanya kolaborasi yang lebih luas dan masif di masa depan.
"Insya Allah kolaborasi ini akan terus berlanjut dan semakin berkembang, memberikan manfaat bagi masyarakat luas," ungkap Prof. JM. Muslimin dengan optimisme tinggi di hadapan para peserta.
Ia kemudian membedah fenomena perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang telah merevolusi berbagai lini kehidupan. Mulai dari sektor sosial, ekonomi, pendidikan, hingga praktik keagamaan, semuanya telah mengalami pergeseran instan akibat sentuhan teknologi modern.
Namun, di balik kemudahan tersebut, Prof. JM. Muslimin mengingatkan adanya sisi gelap berupa ancaman dehumanisasi, ketimpangan sosial yang melebar, dan kerusakan ekologis. Dominasi teknologi yang terlalu hegemonik dikhawatirkan dapat mengikis, bahkan menggeser nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan paling mendasar dari dalam diri manusia.
Oleh karena itu, studi Islam berkewajiban hadir sebagai kekuatan intelektual yang menawarkan paradigma etik, ekologis, dan humanistik. Harapan besar dititipkan pada forum ICIIS dan GIC 2026 agar mampu melahirkan rekomendasi akademik yang konkret, riset kolaboratif yang aplikatif, serta inovasi keilmuan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
"Lebih dari 175 presenter akan memaparkan artikel ilmiah mereka yang berkaitan langsung dengan isu Perubahan Iklim dan Hegemoni Teknologi. Kami juga bangga karena berhasil menghadirkan para pembicara hebat dari berbagai universitas dunia, mulai dari Amerika, Jerman, Irlandia, Malaysia, hingga Pakistan," papar ketua panitia tersebut.
Senada dengan hal itu, Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag, ikut menegaskan pentingnya kontribusi nyata dunia akademik dalam merespons perubahan zaman. Beliau mengingatkan bahwa studi Islam tidak boleh hidup terisolasi di dalam menara gading, melainkan harus peka terhadap tanggung jawab ekologis.
“Forum akademik tidak boleh hanya menjadi ajang menulis atau berdiskusi semata. Harus ada temuan dan inovasi nyata yang mampu menjawab tantangan zaman secara konkret,” tegas Prof. Masnun Tahir dengan penuh penekanan.
Ia menambahkan bahwa konsep Keseimbangan Ilahi (divine balance) jangan hanya dipahami secara teologis semata. Konsep ini harus dimaknai sebagai tanggung jawab kolektif umat manusia untuk menjaga harmoni yang selaras antara ajaran agama, kelestarian lingkungan, kemajuan teknologi, dan nilai kemanusiaan.
Suasana forum semakin berbobot dengan hadirnya Wakil Wali Kota Mataram, TGH. Mujiburrahman, SH, M.Pd, yang bertindak sebagai keynote speaker. Tokoh yang akrab dengan dunia dakwah dan kebijakan publik ini membawakan materi utama yang selaras dengan tema besar konferensi.
Dalam pemaparannya, TGH. Mujiburrahman menegaskan bahwa era digital telah mengubah fondasi cara hidup masyarakat secara fundamental. Perubahan ini merambah hingga ke cara manusia modern memahami esensi agama, memperlakukan lingkungan, serta membangun relasi sosial antarsesama.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa kecanggihan teknologi tidak boleh sedikit pun melayukan dimensi spiritual, etika, dan tanggung jawab ekologis. Manusia harus tetap sadar akan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi yang mengemban misi menjaga, bukan merusak.
Wakil Wali Kota Mataram ini menjelaskan bahwa perubahan iklim adalah ancaman nyata yang multifaset. Dampaknya tidak lagi sebatas cuaca ekstrem, melainkan sudah memukul sektor ketahanan pangan, memperlemah ekonomi masyarakat, mengganggu kesehatan, hingga berpotensi memicu instabilitas sosial.
Melihat seriusnya dampak tersebut, pendekatan keagamaan dinilai memiliki posisi yang sangat strategis. Nilai-nilai spiritual dapat menyentuh relung hati masyarakat untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga stabilitas dan keseimbangan alam sekitar.
TGH. Mujiburrahman juga menyoroti cengkeraman hegemoni teknologi digital yang kian kuat mengontrol pola pikir, budaya, dan perilaku generasi modern. Ia mengimbau agar pemanfaatan kecerdasan buatan dan arus informasi digital diarahkan secara bijak.
Teknologi seharusnya digunakan untuk memperkuat nilai kemanusiaan, menegakkan keadilan sosial, membumikan moderasi beragama, dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Langkah ini penting dilakukan agar teknologi tidak menjadi bumerang yang justru memperlebar krisis moral dan ketimpangan sosial di masyarakat.
Pada momentum yang sama, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, MA, Ph.D, secara resmi membuka forum gabungan ICIIS ke-9 dan GIC ke-6 2026. Dalam pidato pembukaannya, Prof. Asep menyatakan bahwa reinterpretasi hubungan antara agama dan sains sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.
Umat beragama saat ini dihadapkan pada rentetan isu strategis yang menuntut respons cepat, mulai dari laju kecerdasan buatan, isu kesehatan global, dinamika ekonomi digital, hingga krisis lingkungan. “Kolokium ini diharapkan tidak sekadar menghasilkan tumpukan publikasi akademik di atas kertas, tetapi melahirkan solusi konkret bagi kemaslahatan masyarakat luas,” cetus Rektor UIN Jakarta tersebut.
Konferensi ini kian semarak dengan kontribusi pemikiran dari tokoh-tokoh akademis terkemuka dunia. Di antaranya ada Prof. Arun Rasiah yang mengupas tuntas mengenai penguatan studi Islam interdisipliner dalam merespons transformasi sosial global, serta Mohammad Aboomar yang menyoroti tantangan berat etika dan spiritualitas Islam di tengah gempuran AI.
Sesi diskusi juga diperkaya oleh Dr. Nabila yang memaparkan strategi penguatan moderasi beragama dan literasi digital di tengah arus globalisasi teknologi. Sementara itu, Direktur Pascasarjana UIN Mataram, Prof. Dr. H. Subhan Abdullah Acim, MA, ikut urat pikir mengenai pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, ilmu pengetahuan, dan inovasi teknologi dalam cetak biru pendidikan tinggi Islam masa depan.
Seluruh rangkaian diskusi ilmiah yang dinamis dan berenergi ini dipandu secara bergantian oleh dua moderator andalan, yaitu Prof. Arif Zamhari, M.Ag, Ph.D, dan Prof. Dr. Nikmatullah, MA, yang berhasil menghidupkan dialektika pemikiran sepanjang acara.
Tidak hanya menjadi panggung adu gagasan, helatan akbar ini juga menghasilkan kerja sama nyata yang legal. Hal ini ditandai dengan prosesi penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pascasarjana UIN Mataram.
Kesepakatan MoA tersebut mencakup poin-poin strategis, seperti penguatan riset kolaboratif lintas institusi, program pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan publikasi ilmiah berskala internasional. Sinergi ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi kemajuan pascasarjana keagamaan di Indonesia.
Kolaborasi strategis ini diproyeksikan akan memperkokoh jejaring perguruan tinggi Islam di tanah air agar tumbuh menjadi institusi yang inovatif, kolaboratif, dan adaptif terhadap isu global. Melalui ICIIS dan GIC 2026, studi Islam diakselerasi untuk bergerak melampaui teks normatif menuju gerakan transformatif demi peradaban global yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, forum internasional di Lombok ini sukses bertindak sebagai ruang perjumpaan taktis bagi para akademisi, peneliti, dosen, dan mahasiswa pascasarjana dari berbagai belahan dunia. Dengan tuntasnya pembahasan isu perubahan sosial, krisis lingkungan, hingga moderasi beragama, kedua perguruan tinggi ini kembali mempertegas komitmen mereka untuk terus mengawal peradaban modern melalui kacamata keilmuan Islam yang inklusif dan berorientasi global.(JA)
