Ujian Promosi Doktor A. Muthalib, Tuan Guru Sapat (1867—1939) dan Perkembangan Islam di Indragiri Hilir Riau
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1711 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA pada Kamis, 30 Juli 2026 dengan promovendus A. Muthalib.
Muthalib merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan konsentrasi Sejarah Peradaban Islam. Disertasinya berjudul “Tuan Guru Sapat (1867—1939) dan Perkembangan Islam di Indragiri Hilir Riau: Analisis Historis-Sosiologis”.
Penelitian ini hadir untuk mengoreksi kecenderungan historiografi Islam Indonesia yang selama ini dinilai terlampau Jawa-sentris. Akibat dominasi narasi tersebut, peran ulama-ulama lokal pesisir di luar Pulau Jawa sering kali luput diposisikan sebagai aktor utama dalam dinamika perubahan sosial dan peradaban Islam di Nusantara.
Fokus utama riset ini menyoroti kiprah Syekh Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad Afif al-Banjari (1867–1939), atau yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai Tuan Guru Sapat. Setelah menimba ilmu keagamaan yang mendalam di tanah suci Haramain, ia memutuskan untuk bermigrasi dan menetap di kawasan pesisir Indragiri Hilir, Riau, demi mendedikasikan hidupnya bagi pembinaan umat.
Melalui Pesantren Hidayat Sapat yang didirikannya, Tuan Guru Sapat tidak hanya memelihara dan mempertahankan ortodoksi ajaran Sunni-Syafi‘i. Lebih dari itu, ia merespons arus modernitas kolonial secara taktis dengan membangun lembaga pendidikan keagamaan yang terstruktur, berakar pada kultur Melayu pesisir, dan berdikari secara finansial.
Dari sisi transformasi pendidikan, penelitian Muthalib mengungkapkan bagaimana Tuan Guru Sapat berhasil merombak model pengajian tradisional menjadi sistem pesantren yang modern pada zamannya. Kurikulum yang diterapkan mengintegrasikan kajian kitab kuning, ilmu alat, fikih, tauhid, tasawuf, hingga disiplin ilmu umum seperti mantik, aljabar, adab, dan program kaderisasi ulama.
Selain reformasi pendidikan, keunggulan Tuan Guru Sapat terletak pada terobosan kemandirian ekonomi lembaganya. Ia membangun fondasi fiskal pesantren berbasis potensi lokal melalui pengelolaan perkebunan kelapa, penerapan sistem parit, serta budaya kerja kolektif para santri tanpa tergantung sedikit pun pada subsidi maupun intervensi pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Sintesis yang kuat antara pendidikan karakter, kedaulatan ekonomi, otoritas keagamaan sebagai mufti, serta jejaring keilmuan yang luas berhasil melahirkan model Islam Nusantara yang mandiri, moderat, dan berakar kuat secara lokal. Hal ini membuktikan secara empiris bahwa modernitas Islam di daerah pesisir mampu tumbuh dinamis dari tradisinya sendiri.
Kebaruan (novelty) dari disertasi ini terletak pada perumusan konsepsional mengenai "Model Sapat". Konsep ini menggambarkan konfigurasi integratif yang menyatukan otoritas keagamaan, pembaruan pendidikan, ekonomi agraris, dan jaringan ulama transnasional yang selama ini belum dirumuskan secara sistematis dalam studi-studi terdahulu.
Secara akademis, temuan riset A. Muthalib sejalan sekaligus memperkaya penulisan sejarah terdahulu seperti karya Arrafi‘i Abduh (1988) dan Lesley Potter (1993). Penelitian ini memberikan penekanan dan kedalaman analisis baru pada dimensi kemandirian ekonomi agraris yang sebelumnya belum tergarap secara menyeluruh.
Melalui keberhasilan promosi doktor ini, formulasi "Model Sapat" diharapkan dapat menjadi acuan historis serta inspirasi kontemporer bagi pengembangan tata kelola pesantren masa kini khususnya dalam memadukan keunggulan literasi keagamaan dengan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Muthalib berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Jajang Jahroni, MA, Ph.D, Prof. Dr. Didin Saepudin, MA, Prof. Usep Abdul Matin, S.Ag, MA, MA, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Jajang Jahroni, MA, Ph.D, Prof. Dr. Didin Saepudin, MA, Prof. Usep Abdul Matin, S.Ag, MA, MA, Ph.D, Prof. Dr. Masri Mansoer, M.Ag, Prof. Dr. Yusron Razak, MA dan Prof. Dr. Murodi, M.Ag.
Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Muthalib lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. A. Muthalib merupakan Doktor ke-1711 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Jay A)
