Ujian Promosi Doktor Dinil Abrar Sulthani, Model Inovasi Kurikulum Madrasah Aliyah Negeri dalam Implementasi Kurikulum Merdeka
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1681 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA pada Rabu, 3 Juni 2026 dengan promovendus Dinil Abrar Sulthani.
Dinil merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan konsentrasi Pendidikan Agama Islam. Disertasinya berjudul “Model Inovasi Kurikulum Madrasah Aliyah Negeri dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (Studi Kasus pada MAN 4 Jakarta Selatan, MAN 7 Jakarta Selatan, dan MAN 9 Jakarta Timur)”. Penelitian ini hadir sebagai respons akademik kritis yang sangat kontekstual di tengah bergulirnya transformasi sistem pendidikan nasional di Indonesia.
Penelitian komparatif ini secara khusus bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif bagaimana model inovasi kurikulum Madrasah Aliyah Negeri (MAN) dikembangkan dan dijalankan dalam bingkai Kurikulum Merdeka. Sebagai lokus penelitian, Dinil memilih tiga madrasah unggulan di wilayah DKI Jakarta yang dinilai memiliki karakteristik unik dan representatif, yaitu MAN 4 Jakarta Selatan, MAN 7 Jakarta Selatan, dan MAN 9 Jakarta Timur.
Melalui data-data lapangan yang dikumpulkan secara empiris, peneliti membedah tiga fokus utama yang menjadi tiang penyangga disertasinya. Fokus tersebut meliputi analisis mendalam mengenai bagaimana respons riil madrasah aliyah dalam menghadapi derasnya perubahan zaman, ragam model inovasi kurikulum yang aktual diterapkan oleh masing-masing madrasah, serta formulasi model integrasi pendidikan Islam dalam implementasi Kurikulum Merdeka.
Guna membedah dinamika struktural dan kultural di ketiga madrasah tersebut, Dinil mengadopsi teori utama (grand theory) dari sosiolog pendidikan terkemuka, Michael Fullan. Teori ini menekankan bahwa setiap perubahan sistemik yang substantif harus mengarah pada model inovasi dan implementasi kurikulum yang adaptif, organik, serta benar-benar sesuai dengan spektrum kebutuhan riil yang dihadapi oleh lembaga madrasah aliyah.
Tak hanya berpijak pada satu poros teoritis, analisis disertasi ini kian diperkuat oleh integrasi dua teori pendukung yang saling berkelindan, yaitu theory of planned behavior dan teori perkembangan sosial-kognitif Vygotsky. Kedua teori ini ditempatkan secara strategis untuk mengelaborasi aspek psikologis perilaku pendidik serta interaksi sosial-budaya dalam memperkokoh konsep inovasi perubahan pandangan yang digagas oleh Michael Fullan.
Metodologi yang diterapkan dalam riset ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus ganda (multiple case study). Untuk menggali data yang kaya dan otentik, Dinil melakukan proses pengumpulan data yang intensif dan rigid selama berbulan-bulan di lapangan melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam (in-depth interview), serta studi dokumentasi kelembagaan yang valid.
Kekuatan metodologis penelitian ini juga terlihat dari pelibatan sumber data yang kaya, dengan menjaring aspirasi dari total 24 informan kunci yang otoritatif. Komposisi informan tersebut mencakup 3 unsur pimpinan madrasah yang menjadi penentu kebijakan, 6 guru praktisi yang merancang pembelajaran di kelas, serta 15 siswa madrasah yang merasakan langsung dampak implementasi kurikulum, di mana masing-masing porsi terbagi rata dari ketiga lokasi riset.
Salah satu temuan krusial dalam penelitian ini menunjukkan bahwa respons dari MAN di Jakarta secara umum masih bersifat mandatori. Karakteristik ini mencerminkan sikap kelembagaan yang cenderung linier dan patuh dalam mengikuti setiap garis kebijakan maupun regulasi dari atasan, yang dalam konteks tata kelola madrasah berada di bawah naungan penuh Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kendati menunjukkan kepatuhan yang tinggi, implementasi di lapangan tidaklah sepenuhnya berjalan mulus karena riset ini berhasil memetakan sejumlah hambatan yang cukup signifikan. Tantangan terbesar justru muncul dari kalangan guru-guru senior yang mengalami resistensi akibat keterbatasan pemahaman digital, ditambah dengan persepsi bahwa kebijakan program P5RA (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan lil ‘Alamin) merupakan beban administrasi baru, serta diperparah oleh minimnya fasilitas penunjang.
Meskipun menghadapi tantangan serupa, ketiga madrasah tersebut berhasil melahirkan diferensiasi model inovasi yang sangat menarik. MAN 4 Jakarta Selatan secara dominan menerapkan inovasi kurikulum dan pembelajaran berbasis riset (research-based learning), yang menuntut siswa berpikir kritis ilmiah sejak dini.
Di sisi lain, MAN 7 Jakarta Selatan menunjukkan kecenderungan yang berbeda dengan mengaplikasikan inovasi kurikulum-pembelajaran berbasis kategori lintas disiplin ilmu atau cross content study. Sementara itu, MAN 9 Jakarta Timur tampil menonjol melalui pengembangan inovasi kurikulum dan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang berorientasi pada produk nyata dan pemecahan masalah aktual.
Secara analitis, Dinil menyimpulkan bahwa ketiga model inovasi di madrasah-madrasah tersebut sebetulnya memiliki titik temu (kesamaan) pada optimalisasi pemanfaatan teknologi digital dan penguatan kolaborasi komunitas akademis. Kendati demikian, distingsi atau perbedaan mendasar di antara ketiganya terletak pada jangkar fokus utamanya masing-masing—apakah menitikberatkan pada tradisi riset, kedalaman kategori, atau luaran proyek.
Mengenai model integrasi pendidikan Islam dalam Kurikulum Merdeka, riset ini merumuskan tiga pendekatan holistik yang saling mengunci. Pertama, dalam cara berpikir kritis, integrasi nilai Islam dilakukan melalui pembiasaan kegiatan keagamaan yang konsisten; kedua, dalam cara bersosialisasi, integrasi Islam dimanifestasikan melalui program P5RA; dan ketiga, dalam cara beradaptasi siswa agar mampu menyelaraskan diri dengan perkembangan global dan arus perubahan zaman.
Kebaruan ilmiah (novelty) dari disertasi ini terwujud dalam tiga distingsi utama yang membedakannya secara tegas dari riset-riset terdahulu. Kebaruan tersebut terletak pada kajian implementasi Kurikulum Merdeka khusus pada jenis pendidikan madrasah secara komparatif multi-lokasi, penggunaan metode kualitatif studi kasus ganda yang mendalam, serta penerapan kerangka tiga teori (triangulasi teori) sekaligus sebagai pisau analisis temuan data.
Melalui hasil temuan ini, Dinil berargumen bahwa kebijakan kurikulum makro akan selalu memicu lahirnya inovasi-inovasi baru di tingkat mikro kelembagaan pendidikan Islam, meskipun dalam realitasnya pemerintah seringkali belum siap dengan perangkat regulasi taktisnya. Oleh karena itu, inovasi kurikulum dan pembelajaran merupakan sebuah kemutlakan yang tidak bisa ditawar lagi demi mengimbangi volatilitas regulasi sekaligus menjawab tantangan zaman.
Dinil berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Muhammad Zuhdi, M.Ed, Ph.D, dan Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Muhammad Zuhdi, M.Ed, Ph.D, Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc, Ph.D, Prof. Dr. Ulfah Fajarini, M.Si, Prof. Dr. Sururin, M.Ag, Prof. Dr. Kadir, M.Pd.
Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Dinil Abrar Sulthani lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Dinil Abrar Sulthani merupakan Doktor ke-1681 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)
