Ujian Promosi Doktor Helmun Jamil, Dimensi Pedagogis Syair dalam Tafsir
Ujian Promosi Doktor Helmun Jamil, Dimensi Pedagogis Syair dalam Tafsir

Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1698 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA pada Jumat, 24 Juli 2026 dengan promovendus Helmun Jamil.

Helmun merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan konsentrasi Tafsir Interdisiplin. Disertasinya berjudul “Dimensi Pedagogis Syair dalam Tafsir: Studi atas Ṣafwah al-Tafāsīr Karya Muḥammad ‘Alī al-Ṣābūnī”.

Fokus utamanya sederhana namun tajam: membongkar bagaimana syair-syair Arab yang terselip dalam kitab Ṣafwah al-Tafāsīr bukan sekadar ornamen bahasa, melainkan medium efektif dalam mentransmisikan nilai-nilai luhur Al-Qur'an kepada pembacanya.

Secara spesifik, studi ini dirancang untuk menjawab tiga misi utama. Pertama, mengurai struktur stilistika dan semiotika syair dalam membentuk dimensi pedagogis penafsiran. Kedua, memetakan secara presisi nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya. Ketiga, menjelaskan konstruksi serta fungsi operasional dimensi pedagogis syair tersebut ketika mentransformasikan ajaran ilahi ke dalam sanubari pembaca.

Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian kepustakaan, Helmun menjadikan kitab Ṣafwah al-Tafāsīr sebagai muara utama analisisnya. Sebanyak 44 bait syair yang tersebar di tiga segmen khusus Fawā’id, Laṭā’if, dan Tanbīhāt dissect secara cermat. Uniknya, penelitian ini menerapkan pendekatan dialektis yang memperlakukan setiap syair sebagai kasus uji bagi kerangka teoretisnya sendiri, bukan sekadar mencocok-cocokkan teori dengan teks.

Kerangka analisis yang digunakan pun terbilang komprehensif. Dari kacamata stilistika, Helmun membedah diksi, metafora, pencitraan, ironi, hingga struktur retoris bait-bait tersebut. Sementara dari sudut semiotika Charles Sanders Peirce, ia menelusuri alur representamen-objek-interpretant serta kategorisasi tanda mulai dari qualisign hingga simbol. Seluruh temuan ini kemudian dipadukan dengan teori pendidikan Islam, termasuk konsep internalisasi nilai tiga tahap (transformasi, transaksi, dan transinternalisasi).

Dari kerja keras akademis tersebut, Helmun membuahkan tiga temuan besar. Pertama, interaksi antara stilistika dan semiotika ternyata melahirkan pola pedagogis yang khas di setiap segmennya: normatif-didaktis pada segmen Fawā’id, reflektif-simbolik pada Laṭā’if, serta korektif-instruksional pada Tanbīhāt. Menariknya, dimensi pedagogis ini justru lahir dari ketegangan dinamis antara teori dan realitas teks, bukan dari pemaksaan teori yang kaku.

Temuan kedua menyingkap bahwa syair-syair dalam Ṣafwah al-Tafāsīr mengusung lima rumpun nilai pendidikan Islam secara utuh. Rumpun tersebut meliputi nilai tarbiyah īmāniyyah (keimanan), akhlāqiyyah (akhlak), ḥiyyah (spiritual), 'aqliyyah (intelektual), dan ijtimā'iyyah (sosial). Artinya, bait-bait puisi di dalamnya mampu merangkum seluruh spektrum kebutuhan pembentukan karakter manusia.

Pada temuan ketiga, terungkap bahwa konstruksi pedagogis syair bekerja melalui tiga fungsi utama: transmisi nilai, refleksi makna, dan klarifikasi-koreksi. Fungsi-fungsi ini berputar dalam sebuah siklus berbasis capaian, dimulai dari penetapan target nilai, perancangan narasi ayat-tafsir-syair, aktivasi tanda semiotis, proses resepsi oleh pembaca, hingga evaluasi. Uniknya, proses ini dengan jujur mengakomodasi variasi hasil, seperti interupsi maupun keterbatasan representasi sebagai bagian yang sah dari dinamika belajar.

Secara peta keilmuan, riset ini memperkuat pandangan Nurhamim (2017) mengenai peran syair Arab sebagai media pendidikan nilai. Namun, Helmun melangkah lebih jauh secara metodologis. Ia membaca bait syair sebagai bagian utuh yang melekat pada struktur tafsir, bukan sekadar teks sastra mandiri yang berdiri sendiri sebagaimana kajian Nurhamim atau Juwariyah (2008).

Di sisi lain, penelitian ini sejalan dengan temuan Mukhlis (2023), Jauhar Azizy (2021), Sherly Devani dkk. (2017), Rahmad Sani (2017), dan Muhammad Arsyad Nastiar (2023) yang membedah Ṣafwah al-Tafāsīr dari sudut hermeneutika, munāsabah, hingga balagah. Namun, posisinya berbeda dari kajian Abdul Halim, Kafrawi (2026), Nurul Habiburrahmanuddin (2022), maupun Ach. Jamiluddin (2020) yang memosisikan Al-Qur'an dan tafsir sebagai sumber nilai tanpa menempatkan syair sebagai objek kajian utama.

Puncak kontribusi dari disertasi ini adalah lahirnya gagasan "edu-puitika Qur’ani". Sebuah model pembacaan berbasis capaian yang menempatkan syair sebagai perangkat estetis, semiotis, sekaligus pedagogis.

Helmun berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Prof. Muhammad Zuhdi, M.Ed, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Prof. Muhammad Zuhdi, M.Ed, Ph.D, Prof. Dr. R. Yani’ah Wardani, M.Ag, Prof. Dr. Sururin, M.Ag, Prof. Dr. Lilik Ummi Kaltsum, MA.

Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Helmun Jamil lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Helmun Jamil merupakan Doktor ke-1698 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Jay A)