Ujian Promosi Doktor Hilmy Firdausy, Politik Instrumentalisasi Hadis di Hindia Belanda 1885-1914
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1686 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA pada Kamis, 9 Juli 2026 dengan promovendus Hilmy Firdausy.
Hilmy merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan konsentrasi Hadis dan Tradisi Kenabian. Disertasinya berjudul “Politik Instrumentalisasi Hadis di Hindia Belanda 1885—1914: Konstruksi Nalar Hadis Sayyid Usman bin Yahya al-Betawi (1822-1914).
Hilmy melihat bahwa aktivitas periwayatan dan penyebaran hadis di Nusantara cenderung dominan digerakkan oleh nalar politis (al-‘aql al-siyāsī), ketimbang nalar epistemologis atau ilmiah (al-‘aql al-ma’rifī).
Artinya, keputusan para ulama terdahulu untuk memilah, meriwayatkan, dan menyebarkan hadis ke tengah masyarakat sejatinya merupakan sebuah keputusan pragmatis. Langkah tersebut dinilai bukan sekadar keputusan ilmiah an sich atau murni demi ilmu pengetahuan, melainkan respons terhadap situasi sekitar.
Oleh karena itu, karakteristik periwayatan hadis di Nusantara pun berlangsung dalam paradigma fungsionalitas, bukan paradigma tekstualitas. Hadis tidak dipandang sebagai teks kaku, melainkan instrumen hidup yang memiliki fungsi konkret dalam mengawal dinamika sosial yang sedang terjadi.
Menurut temuan Hilmy, aktivitas dan karakteristik periwayatan yang sarat fungsi praktis semacam ini sebenarnya sudah muncul sejak abad ke-17. Namun, fenomena tersebut mencapai titik kulminasinya di akhir abad ke-20 Masehi, di mana teks-teks keagamaan kerap berkelindan dengan kepentingan publik.
Di tangan Sayyid Usman, seorang ulama terkemuka Batavia, hadis memainkan peran yang sangat krusial. Teks suci tersebut bertransformasi menjadi ruang negosiasi yang menjembatani sekaligus meredam ketegangan akut akibat tekanan kolonialitas pemerintah Hindia Belanda kala itu.
Penelitian ini secara cermat mengamati sejauh mana hadis-hadis bergerak dalam pusaran wacana sosial, politik, dan keagamaan di Nusantara dari akhir abad 19 sampai awal abad 20. Demi memotret realitas yang rumit tersebut, Hilmy mengelaborasi pendekatan interdisipliner yang memadukan teori Studi Hadis Klasik dan Studi Sejarah.
Tak hanya itu, karena keunikan objek penelitian yang dinilai ambivalen, Hilmy memanfaatkan Teori Nalar Politik tawaran al-Jabiri dan Teori Poskolonial. Perangkat teori ini digunakan untuk mengiris lebih dalam struktur nalar serta kesadaran Sayyid Usman sebagai seorang ulama “kolaborator” yang hibrid.
Secara umum, disertasi ini berhasil mengoreksi kecenderungan studi kesejarahan hadis terdahulu yang didominasi pendekatan historis-kritik dan analisa otoritas. Pendekatan lama biasanya hanya melihat hadis sebagai produk kontestasi hukum dalam tradisi fikih, atau sekadar produk negosiasi sosial dan dinamika otoritas.
Sebagai penutup kebaruan ilmiahnya, Hilmy menawarkan perspektif mikro yang segar dengan menempatkan hadis sebagai praktik diskursif yang dioperasikan dalam relasi kekuasaan. Sudut pandang baru ini memotret Sayyid Usman bukan sebagai figuran pasif, melainkan subyek aktif yang cerdik mengelola hibriditas konteks di tengah cengkeraman kolonialisme.
Hilmy berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Dr. M. Suparta, MA dan Prof. Dr. Jajat Burhanudin, MA, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Prof. Dr. M. Suparta, MA, Prof. Dr. Jajat Burhanudin, MA, Prof. Ismatu Ropi, MA, Ph.D, Prof. Jajang Jahroni, MA, Ph.D, Prof. Dr. Media Zainul Bahri, MA.
Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Hilmy Firdausy lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Hilmy Firdausy merupakan Doktor ke-1686 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Jay A)
