Ujian Promosi Doktor Mochamad Syaefudin, Dakwah dan Komodifikasi: Analisis Program Pencarian Bakat AKSI Indosiar dan Hafiz RCTI
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1718 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA Sekolah Pascasarjana pada Selasa, 11 Agustus 2026 dengan promovendus Mochamad Syaefudin.
Syaefudin merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan konsentrasi Dakwah dan Komunikasi. Disertasinya berjudul “Dakwah dan Komodifikasi: Analisis Program Pencarian Bakat AKSI Indosiar dan Hafiz RCTI”.
Disertasi ini lahir dari kegelisahan akademis terhadap maraknya praktik komodifikasi agama dalam program pencarian bakat pendakwah dan penghafal Al-Qur'an. Meskipun dikemas dalam balutan industri hiburan televisi yang kental dengan aspek komersial, program-program ini terbukti tetap menjadi tontonan yang sangat diminati oleh masyarakat luas.
Untuk membedah fenomena ini secara mendalam, Syaefudin mengombinasikan tiga pisau analisis teoritis. Ia menggunakan teori komunikasi produksi media dari Gill Branston dan Roy Stafford (preproduction, production, postproduction), teori ekonomi politik media dari Vincent Mosco (komodifikasi isi, khalayak, dan tenaga kerja), serta teori komunikasi Islam dari Andi Faisal Bakti (tablīgh, taghyīr, amr maʿrūf nahy munkar, dan akhlāq/khayru ummah).
Secara metodologis, penelitian ini mengadopsi paradigma kritis dengan pendekatan transdisipliner yang memadukan ilmu komunikasi, sosiologi, dan studi dakwah. Peneliti menggali data primer melalui wawancara mendalam bersama para peserta, dewan juri, hingga produser program AKSI Indosiar dan Hafiz RCTI, yang disempurnakan dengan observasi serta penelusuran dokumen di platform televisi, digital, dan media sosial.
Temuan pertama penelitian ini memetakan secara detail tahapan produksi media pada kedua program tersebut. Alur produksi terbagi sistematis mulai dari praproduksi (penentuan ide, audisi, karantina, dan gladi resik), tahap produksi (live maupun taping), hingga pascaproduksi yang berfokus pada penyuntingan (editing) serta evaluasi penayangan.
Temuan kedua menyingkap bentuk-bentuk komodifikasi yang terjadi di industri televisi. Komodifikasi isi terlihat jelas ketika konten keagamaan dipadukan dengan unsur hiburan seperti komedi, musik, permainan, dan gimmick. Sementara itu, komodifikasi khalayak terjadi saat partisipasi audiens dimanfaatkan untuk mendongkrak rating dan share demi menggaet iklan, sedangkan komodifikasi tenaga kerja memposisikan peserta, pembawa acara, dan juri sebagai pekerja media dalam sistem penayangan harian (stripping).
Uniknya, pada temuan ketiga, riset ini mengungkap bahwa motivasi para peserta tidak hanya berorientasi pada popularitas atau materi semata. Keikutsertaan mereka digerakkan oleh niat praktik mulia, pengembangan diri, nilai-nilai Islami, keyakinan pribadi, serta dukungan komunitas. Motivasi sublim ini terbukti masih sejalan dengan koridor nilai dakwah Islamiah.
Hasil analisis ini sekaligus membawa argumen kuat yang membantah temuan peneliti senior Ariel Heryanto (2008). Jika Heryanto menyebut motivasi utama peserta program pencarian bakat semata-mata demi popularitas dan karier di dunia hiburan, temuan Syaefudin justru membuktikan bahwa niat murni untuk berdakwah tetap menjadi dorongan utama para peserta di balik panggung gemerlap televisi.
Di sisi lain, akumulasi dari praktik komodifikasi ini memberikan keuntungan finansial maupun non-finansial bagi stasiun televisi, dewan juri, hingga para peserta. Program pencarian bakat seperti AKSI dan Hafiz RCTI pun mengukuhkan posisinya sebagai media dakwah kontemporer yang menjanjikan panggung populer bagi lahirnya pendakwah-pendakwah baru.
Sebagai kesimpulan, dinamika antara dakwah dan komodifikasi ini kian menyuburkan fenomena dakwahtainment (dakwah-hiburan) di media massa. Temuan Syaefudin ini memperkuat kajian Dicky Sofjan (2013) yang mendefinisikan dakwahtainment sebagai persilangan sistematis antara pencerahan spiritual dan hiburan, sebuah fenomena kompromistis yang kerap berisiko mereduksi bobot pesan keagamaan itu sendiri.
Syaefudin berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA, Prof. Arif Zamhari, M.Ag, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA, Prof. Arif Zamhari, M.Ag, Ph.D, Prof. Dr. H. Abd. Rahman, MA, Prof. Dr. Khamami, MA, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si.
Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Syaefudin lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Mochamad Syaefudin merupakan Doktor ke-1718 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Jay A)
