Ujian Promosi Doktor Muhammad Irsan Barus, Program Tahfiz Al-Qur'an sebagai Keunggulan Institusional
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1717 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA Sekolah Pascasarjana pada Senin, 10 Agustus 2026 dengan promovendus Muhammad Irsan Barus.
Irsan merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan konsentrasi Pendidikan Islam. Disertasinya berjudul “Program Tahfiz Al-Qur'an sebagai Keunggulan Institusional: Studi Multisitus pada Sekolah Islam Kota Medan”.
Penelitian ini dirancang secara mendalam untuk membedah bagaimana program tahfiz Al-Qur'an mampu ditransformasikan menjadi diferensiasi serta keunggulan institusional di tujuh sekolah Islam jenjang menengah pertama (SMP/MTs) di Kota Medan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi multisitus, penelitian ini memotret secara komprehensif strategi lembaga pendidikan dalam merespons kebutuhan masyarakat modern akan pendidikan berbasis keagamaan.
Prosedur pengumpulan data dilakukan secara ketat melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan analisis dokumen resmi. Untuk menjaga keabsahan temuan, peneliti menerapkan uji kredibilitas dan transferabilitas, yang dilanjutkan dengan pemrosesan data melalui kondensasi data, penyajian data, kategorisasi tematik, penarikan kesimpulan, hingga analisis lintas situs.
Dari hasil penelusuran empiris, temuan pertama mengungkap bahwa kebijakan program tahfiz Al-Qur'an di sekolah-sekolah tersebut berakar pada kombinasi landasan teologis, ideologis, dan regulatif. Landasan ini tercermin nyata dalam tata kelola kurikulum, pengembangan sumber daya manusia, pengelolaan peserta didik, sistem evaluasi, penyediaan sarana, hingga skema pembiayaan, meski tingkat pelembagakannya bervariasi di setiap sekolah.
Temuan kedua memperlihatkan keanekaragaman pada tataran implementasi. Pelaksanaan program tahfiz terbukti sangat dinamis dan bervariasi tergantung pada visi, tujuan khusus, variasi materi, metode pembelajaran yang diterapkan, sistem evaluasi hafalan, serta strategi komunikasi yang digunakan lembaga untuk membangun identitas brand sekolah di mata publik.
Pada temuan ketiga, penelitian ini membuktikan bahwa keberadaan program tahfiz memberikan dampak implikatif yang luas. Bagi peserta didik, program ini terbukti menguatkan aspek spiritual, sosial, akademik, dan psikologis. Sementara bagi institusi, keberhasilan program tahfiz berdampak langsung pada penguatan identitas religius, citra positif, dan peningkatan mutu sekolah secara menyeluruh.
Melalui analisis lintas situs yang mendalam, Irsan Barus mengategorikan penyelenggaraan program tahfiz Al-Qur'an di Kota Medan ke dalam tiga tipologi utama. Tipologi pertama adalah simbolik, di mana tahfiz diposisikan sebagai identitas religius berbasis pembiasaan dengan target hafalan yang cenderung terbatas dan fleksibel.
Tipologi kedua adalah integratif kurikuler, yakni model yang memadukan program tahfiz ke dalam sistem pembelajaran formal sekolah untuk mendukung pembentukan karakter serta budaya belajar Al-Qur'an secara terstruktur. Sementara tipologi ketiga adalah akseleratif, yang menempatkan tahfiz sebagai program unggulan utama (flagship) dengan target hafalan tinggi, metode pembelajaran intensif, serta dukungan ekosistem kelembagaan yang sangat kuat.
Secara teoritis, temuan lintas tujuh sekolah ini sejalan dengan prinsip Total Quality Management (TQM), khususnya pada aspek orientasi pemangku kepentingan dan perbaikan mutu berkelanjutan. Sekolah-sekolah Islam di Medan dinilai berhasil merespons ekspektasi orang tua, siswa, dan masyarakat luas melalui inovasi dan pembenahan program tahfiz secara berkesinambungan.
Selain itu, penelitian ini berhasil memperluas tesis Hasan dan Jahroni mengenai komodifikasi dan ekspresi kesalehan di ruang publik. Disertasi ini membuktikan bahwa tahfiz Al-Qur'an pada sekolah formal baik berasrama (boarding) maupun nonasrama tidak lagi sekadar simbol kesalehan luar, melainkan telah dilembagakan secara sistematis melalui kebijakan, kurikulum, dan tata kelola profesional. Hal ini menegaskan bahwa keunggulan institusional lahir dari keterpaduan arah kebijakan, konsistensi eksekusi, dan komitmen lembaga, bukan semata-mata menuntut target hafalan yang tinggi.
Irsan berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Dr. Husni Rahim, Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Dr. Husni Rahim, Prof. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc, Ph.D, Prof. Dr. Ulfah Fajarini, M.Si, Prof. Dr. Alek, M.Pd, Prof. Dr. Iik Arifin Mansurnoor, MA.
Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Irsan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Muhammad Irsan Barus merupakan Doktor ke-1717 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Jay A)
