Ujian Promosi Doktor Rd. M. Imam Abdillah: Islam dan Nasionalisme: Analisis Wacana Kritis Puisi Shubbān al-Waṭan Karya Wahab Chasbullah
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1647 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA pada Jumat, 19 Desember 2025 dengan promovenda Rd. M. Imam Abdillah.
Imam merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Bahasa dan Sastra Arab. Disertasinya berjudul "Islam dan Nasionalisme: Analisis Wacana Kritis Puisi Shubbān al-Waṭan Karya Wahab Chasbullah". Penelitian ini membedah bagaimana sebuah karya sastra mampu menjadi ruh bagi pergerakan kebangsaan di Indonesia.
Dalam paparannya, Imam mengungkapkan bahwa hubungan antara Islam dan nasionalisme bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Melalui pembacaan kritis terhadap puisi Shubbān al-Waṭan, ia menyingkap bagaimana teks tersebut berfungsi sebagai medium ideologis yang sangat kuat. Puisi ini bukan sekadar susunan kata indah, melainkan instrumen yang sengaja diciptakan untuk membentuk kesadaran kolektif bangsa dalam melawan cengkeraman kolonialisme.
Penelitian ini menggunakan pisau Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough. Imam menelusuri teks melalui tiga level yang sangat mendalam: level mikro yang melihat struktur teks, level meso yang mengamati praktik wacana, serta level makro yang meninjau konteks sosial-kultural saat puisi itu lahir. Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat bagaimana agama, politik, dan sastra berkelindan dalam satu ruang arena kuasa.
Salah satu temuan utama dalam disertasi ini adalah strategi cerdas KH Wahab Chasbullah dalam menggunakan bahasa Arab. Dengan memilih bahasa yang dianggap sakral oleh umat Islam, Kyai Wahab berhasil menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme ke dalam sanubari umat. Alhasil, mencintai tanah air tidak lagi dipandang sebagai urusan sekuler, melainkan bagian dari doktrin keagamaan yang saling menguatkan, atau yang dikenal dengan jargon hubbul wathan minal iman.
Lebih lanjut, Imam menjelaskan bahwa puisi ini membangun relasi kuasa yang unik antara teks dan pembacanya. Kekuatan figuratif Kyai Wahab sebagai ulama kharismatik, ditambah dengan legitimasi organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai otoritas kultural, menjadikan Shubbān al-Waṭan bukan sekadar lagu, melainkan identitas kolektif bagi umat Islam Nusantara. Hal ini membuktikan bahwa teks memiliki otoritas untuk menggerakkan massa secara masif dan berkelanjutan.
Dalam konteks kekinian, disertasi ini menemukan bahwa Shubbān al-Waṭan menghadirkan wacana nasionalisme religius yang sangat relevan. Formulasi ideologis yang ditawarkan dalam puisi tersebut mampu menjadi benteng kokoh untuk menangkal arus ideologi transnasional yang kerap mempertentangkan antara agama dan negara. Puisi ini menegaskan bahwa menjadi Muslim yang taat dan menjadi warga negara yang nasionalis dapat berjalan beriringan tanpa kontradiksi.
Kebaruan atau novelty dari penelitian Rd. M. Imam Abdillah terletak pada keberaniannya membaca teks sastra Islam dari sudut pandang produksi kuasa. Selama ini, studi sastra Islam di Indonesia cenderung terpaku pada aspek estetika dan spiritualitas semata. Namun, Imam berhasil membuktikan bahwa sastra adalah ruang negosiasi ideologi dan politik kebudayaan yang secara sadar mengonstruksi identitas nasional Indonesia.
Studi ini juga menjadi respons kritis terhadap kecenderungan akademisi yang sering mengabaikan dimensi ideologis pengarang dalam pembentukan wacana publik. Dengan merujuk pada pemikiran tokoh dunia seperti Leila Ahmad dan Loumia Ferhat, Imam menegaskan bahwa religiusitas berfungsi sebagai kekuatan simbolik. Kekuatan inilah yang mampu mengartikulasikan relasi antara Islam dan kebangsaan secara transformatif sesuai dengan perkembangan zaman.
Temuan Imam dianggap memberikan kontribusi besar bagi penguatan integrasi nasional di tengah keberagaman. Sastra keislaman, menurut hasil penelitian ini, terbukti memiliki peran strategis dalam proyek besar kebangsaan Indonesia yang masih terus berproses hingga hari ini.
Keberhasilannya diharapkan dapat memicu riset-riset serupa yang lebih berani dalam membedah relasi agama dan negara melalui jalur kebudayaan, sekaligus memperkaya khazanah intelektual di lingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dunia akademik internasional.
Rd. M. Imam Abdillah berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Dr. Sukron Kamil, M.Ag, Prof. Dr. R. Yani'ah Wardani, M.Ag dan Yeni Ratna Yuningsih, MA, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Dr. Sukron Kamil, M.Ag, Prof. Dr. R. Yani'ah Wardani, M.Ag, Yeni Ratna Yuningsih, MA, Ph.D, Prof. Dr. Hamid Nasuki, M.Ag, Prof. Burhanuddin Muhtadi, MA, Ph.D dan Dr. Rizqi Handayani, MA.
Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Rd. M. Imam Abdillah lulus dengan predikat Cum Laude. Rd. M. Imam Abdillah merupakan Doktor ke-1647 dalam bidang Pengkajian Islam, pada program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)
