Ujian Promosi Doktor Sahlul Fuad, Praktik Berpakaian Gated Community dalam Produksi Ruang Muslim Kelas Menengah Perkotaan
Ujian Promosi Doktor Sahlul Fuad, Praktik Berpakaian Gated Community dalam Produksi Ruang Muslim Kelas Menengah Perkotaan

Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs – Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Promosi Doktor ke-1689 di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA pada Selasa, 14 Juli 2026 dengan promovendus Sahlul Fuad.

Sahlul merupakan mahasiswa program Doktor Pengkajian Islam dengan konsentrasi Antropologi dan Sosiologi Agama. Disertasinya berjudul “Praktik Berpakaian Gated Community dalam Produksi Ruang Muslim Kelas Menengah Perkotaan di Suburban Metropolitan Jakarta”.

Penelitian ini berangkat dari rasa penasaran yang mendalam mengenai bagaimana cara berpakaian muslim kelas menengah di perumahan kluster (gated community) pinggiran Jakarta bukan sekadar urusan estetika atau agama, melainkan sebuah instrumen aktif yang membentuk ruang sosial mereka.

Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis praktik berpakaian tersebut sebagai medium "produksi ruang sosial". Sahlul ingin membongkar bagaimana sehelai kain yang melekat pada tubuh manusia urban mampu menciptakan batasan-batasan sosial yang tidak terlihat, sekaligus mengidentifikasi mekanisme mikro apa saja yang mengoperasikannya di lingkungan suburban.

Untuk mendapatkan data yang sahih dan mendalam, Sahlul menggunakan pendekatan kualitatif etnografi multisitus. Ia melakukan penelitian lapangan di dua lokasi perumahan, yaitu Grand Residence dan Perumahan Nusantara. Proses pengumpulan datanya terbilang sangat intim dan memakan waktu lama, yakni melalui observasi partisipatif serta wawancara mendalam dengan 11 keluarga Muslim sejak November 2024 hingga April 2026.

Dalam membedah temuan lapangannya, Sahlul merajut kerangka teoritis yang kaya dan multidimensional. Ia mengawinkan teori produksi ruang Henri Lefebvre dengan konsep habitus dan kapital simbolik Pierre Bourdieu. Tidak hanya itu, ia juga memodifikasi teori dramaturgi sosial Erving Goffman, serta memperkayanya dengan perspektif fikih Islam guna melihat dimensi hukum dan etika dalam berbusana.

Hasil studi ini membawa temuan yang sangat menarik: praktik berpakaian ternyata membentuk sebuah gradien ruang terstruktur. Ruang ini berubah secara sistematis dan dinamis mulai dari ruang paling privat (di dalam rumah), ruang semi-publik, hingga ruang sakral. Produksi ruang sosial ini teraktualisasikan lewat pergantian pakaian sehari-hari, cara penghuni menegosiasikan batas wilayah, hingga pengalaman emosional yang mereka rasakan.

Lebih jauh, Sahlul mengenalkan pakaian sebagai spatial agency sesuatu yang punya kekuatan aktif untuk mendefinisikan ruang. Keunikan mekanisme mikro ini ia formulasikan ke dalam tiga mode Portable Space (ruang yang bisa dibawa-bawa), yaitu sakelar biner, dimmer, dan sirkuit laten. Konsep ini membuktikan bahwa "panggung sosial" pertunjukan diri ternyata bisa melekat langsung pada tubuh manusia, bahkan di tengah keterbatasan ruang domestik perumahan modern.

Temuan ini sekaligus mendobrak beberapa batasan studi terdahulu. Jika peneliti terdahulu seperti Fadwa El Guindi (1999) dan Anna J. Secor (2002) hanya berfokus pada jilbab dan perempuan di ruang publik, penelitian Sahlul justru melangkah lebih jauh. Ia menemukan bahwa praktik berpakaian kelompok laki-laki dan anak-anak juga memegang peran penting yang membentuk dinamika ruang domestik di lingkungan keluarga Muslim.

Selain itu, studi Sahlul mengoreksi asumsi El Guindi mengenai kesatuan ontologis pakaian-tubuh, serta membantah temuan Vahaji dan Hadjiyanni (2009) soal keterbatasan arsitektur rumah ala Barat. Di lapangan, Sahlul menemukan bahwa perempuan melakukan negosiasi sartorial (gaya berbusana) dengan frekuensi dan kompleksitas yang jauh lebih tinggi daripada laki-laki, terutama saat merespons kedatangan tamu dan menjaga jarak sosial.

Sahlul menyumbangkan konsep baru bernama Portable Space dan memperkaya teori dramaturgi Goffman melalui istilah body-bound intensification. Konsep ini menjelaskan bagaimana pakaian (sebagai personal front) bisa menggantikan fungsi fisik ruangan sebagai penanda panggung sosial, lengkap dengan pengenalan "audiens transenden" melalui konsep spiritual murāqabah (kesadaran diawasi oleh Tuhan).

Sahlul berhasil mempertahankan disertasinya di bawah bimbingan Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Dr. Yusron Razak, MA, dan Prof. Jajang Jahroni, MA, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Zulkifli, MA, Prof. Dr. Yusron Razak, MA, Prof. Jajang Jahroni, MA, Ph.D, Prof. Dr. Ulfah Fajarini, M.Si, Prof. Dr. Media Zainul Bahri, MA, Prof. Dr. A. Bakir Ihsan, M.Si.

Setelah memperhatikan penulisan disertasi, komentar tim penguji dan jawaban promovendus, tim penguji menetapkan bahwa Sahlul Fuad lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Sahlul Fuad merupakan Doktor ke-1689 dalam bidang Pengkajian Islam, program doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Jay A)