Ujian Tesis Ahmad Afrizal Qosim: Otoritas Haji Tembakau (Studi Kasus Kelas Menengah Muslim Perdesaan di Temanggung)
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Tesis ke-2805 bertempat di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta pada Senin, 23 Februari 2026 dengan kandidat Ahmad Afrizal Qosim.
Afrizal merupakan mahasiswa program Magister Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Antropologi dan Sosiologi Agama. Tesisnya berjudul “Otoritas Haji Tembakau (Studi Kasus Kelas Menengah Muslim Perdesaan di Temanggung)”.
Penelitian ini membedah fenomena sosiologis di Temanggung Jawa Tengah, di mana gelar haji bukan sekadar pencapaian spiritual, melainkan simbol keberhasilan ekonomi agraris. Fokus utama riset ini adalah figur "Haji Tembakau", yakni para petani yang berhasil menginjakkan kaki di tanah suci melalui hasil keringat mengolah komoditas "emas hijau". Bagi masyarakat Temanggung, naik haji adalah puncak dari siklus ekonomi dan keberkahan bumi.
Menggunakan pendekatan etnografi yang kental, Afrizal terjun langsung ke lapangan untuk menggali data dari 10 informan kunci. Melalui wawancara mendalam dan observasi, ia menemukan bahwa makna haji di perdesaan telah didaur ulang secara multidimensional. Ibadah ini menjadi titik temu yang kompleks antara niat teologis yang tulus, aspirasi menaikkan derajat sosial, serta logika ekonomi agraris yang mapan.
Dalam analisisnya, Afrizal menggunakan pisau bedah konsep habitus dan kelas untuk menunjukkan bagaimana haji menjadi medium konversi modal. Kekayaan dari hasil panen tembakau (modal ekonomi) tidak dibiarkan mengendap begitu saja, melainkan dikonversi menjadi modal simbolik religius melalui gelar haji. Transformasi inilah yang kemudian melahirkan otoritas lokal yang sangat kuat di tengah masyarakat.
Temuan ini memberikan kontribusi segar dengan mengisi celah dalam studi haji yang selama ini terlalu didominasi oleh perspektif perkotaan atau sekadar narasi teologis formal. Afrizal mengkritisi pandangan peneliti terdahulu yang dianggap kurang tajam dalam melihat relasi antara ritual suci dengan kapital agraris. Ia berargumen bahwa religiositas di tingkat lokal memiliki artikulasi yang sangat bergantung pada taraf ekonomi wilayah tersebut.
Lebih lanjut, tesis ini mengungkapkan bahwa otoritas seorang "Haji Tembakau" bersifat relasional dan kontekstual. Pengaruh mereka di masyarakat tidak jatuh dari langit, melainkan dikultivasi melalui jaringan pasar dan tradisi lokal yang kuat. Mereka bukan hanya pemimpin dalam doa, tetapi juga aktor kunci yang menentukan arah negosiasi antara etika Islam, dinamika pasar, dan solidaritas antarpetani.
Salah satu poin paling menarik adalah peran para haji ini sebagai "pialang kebudayaan" atau localizer. Mereka mampu menjembatani tradisi Islam yang universal dengan praktik agraris lokal yang spesifik. Di satu sisi mereka menjalankan syariat, di sisi lain mereka adalah penggerak ekonomi yang memahami seluk-beluk tanah dan cuaca.
Tidak berhenti di sana, figur Haji Tembakau juga menjadi mediator penting dalam rantai kapitalisme industri. Mereka berdiri di tengah, menghubungkan petani kecil dengan jaringan pasar tembakau yang luas hingga ke tingkat industri raksasa. Gelar haji memberikan mereka kepercayaan ekstra (trust) yang sangat berharga dalam dunia bisnis tembakau yang penuh risiko.
Secara sosiologis, Afrizal menyimpulkan bahwa fenomena ini merepresentasikan lahirnya formasi kelas menengah baru di perdesaan. Kelompok ini memiliki identitas khas: otoritas mereka bertumpu pada kemampuan menghidupkan nilai-nilai Islam sebagai etika sosial sekaligus etika ekonomi dalam keseharian. Mereka membuktikan bahwa agama dan pasar bisa berjalan beriringan dalam harmoni agraris.
Ujian tesis ini tidak hanya menjadi pembuktian akademik bagi Afrizal, tetapi juga membuka mata tentang betapa dinamisnya wajah Islam di perdesaan Indonesia. "Haji Tembakau" adalah potret nyata bagaimana simbol agama dikelola, dikonversi, dan dipraktikkan sebagai instrumen kepemimpinan yang berakar kuat pada kearifan lokal dan kemandirian ekonomi.
Afrizal berhasil mempertahankan tesisnya di bawah bimbingan Prof. Arif Zamhari, M.Ag, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Hamdani, M.Ag, Ph.D, Prof. Arif Zamhari, M.Ag, Ph.D, Prof. Dr. Hamid Nasuki, M.Ag, Ahmad Abrori, M.Si, Ph.D.
Setelah memperhatikan penulisan tesis, komentar tim penguji dan jawaban kandidat, tim penguji menetapkan bahwa Ahmad Afrizal Qosim lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Ahmad Afrizal Qosim merupakan Magister ke-2805 dalam bidang Pengkajian Islam, pada program Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)
