Ujian Tesis Ahmad Roni Yahya, Konversi Karisma Jadi Suara: Mengurai Mobilisasi Politik Mafia Sholawat pada Pemilu 2024
Ujian Tesis Ahmad Roni Yahya, Konversi Karisma Jadi Suara: Mengurai Mobilisasi Politik Mafia Sholawat pada Pemilu 2024

Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Tesis ke-2832 bertempat di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA  SPs UIN Jakarta pada Jumat, 31 Juli 2026 dengan kandidat Ahmad Roni Yahya.

Roni merupakan mahasiswa program Magister Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Antropologi dan Sosiologi Agama. Tesisnya berjudul “Legitimasi Otoritas Keagamaan dan Mobilisasi Kelompok Mafia Sholawat pada Pemilu 2024". Penelitian ini mengangkat fenomena menarik mengenai bagaimana majelis selawat berskala masif dialihfungsikan menjadi ruang artikulasi dan dukungan politik elektoral.

Penelitian ini bertujuan membongkar mekanisme pembentukan legitimasi otoritas keagamaan sekaligus pemanfaatan sumber daya Kelompok Mafia Sholawat (KMS) pada Pemilu 2024. Secara khusus, studi ini menyoroti peran sentral Gus Ali Shodiqin sebagai figur karismatik yang mengarahkan dukungan jemaahnya kepada pasangan calon Ganjar Pranowo–Mahfud MD.

Guna menguliti fenomena tersebut, peneliti menerapkan metode kualitatif berbasis studi kasus. Pengumpulan data dilakukan secara mendalam melalui wawancara terhadap 12 informan kunci yang dipilih secara purposif, observasi lapangan maupun daring, serta kajian dokumentasi dengan kerangka teori Otoritas Max Weber serta Mobilisasi Sumber Daya McCarthy & Zald.

Hasil penelitian mengungkap bahwa akar kekuatan KMS bertumpu pada karisma personal Gus Ali Shodiqin. Kepemimpinan ini terbentuk secara karismatik-relasional melalui pengakuan tulus jemaah, ikatan hierarkis guru-murid, kedekatan emosional yang erat, daya pikat ritual selawat, serta jejaring komunitas yang solid.

Otoritas spiritual yang kokoh itu kemudian dikonversi menjadi mesin mobilisasi politik yang efektif. Peneliti menemukan bahwa pergerakan ini memanfaatkan lima spektrum sumber daya utama, yakni moral, simbolik-kultural, manusia, sosial-organisasional, hingga efektivitas media dan komunikasi modern.

Melalui proses konversi berlapis, loyalitas spiritual jemaah perlahan diterjemahkan menjadi kepatuhan politik di tempat pemungutan suara. Majelis selawat diaktivasi sebagai basis massa akar rumput, simbol-simbol keagamaan dikristalkan menjadi preferensi elektoral, dan komunitas religius bertransformasi sementara sebagai jaringan politik yang efektif.

Temuan ini secara eksplisit mendukung sekaligus memperluas tesis Fealy dan Bush (2014) yang menyatakan bahwa pengaruh politik ulama di Indonesia tidak pernah pudar, melainkan terus bertransformasi mengarungi konteks demokrasi modern. Penemuan ini mempertegas bahwa ruang keagamaan tetap menjadi arena politik yang sangat dinamis.

Meski demikian, tesis Ahmad Roni Yahya memberikan nuansa baru yang membedakannya dari kajian Mietzner dkk. (2018). Jika studi terdahulu menekankan sentimen keagamaan dan keluhan sosial sebagai pendorong utama mobilisasi, penelitian ini membuktikan bahwa mobilisasi elektoral di majelis selawat justru melahirkan ambivalensi. Mobilisasi karismatik tersebut tidak menghasilkan kepatuhan yang homogen, sebab jemaah tetap memiliki agensi dan otonomi sosial-politik untuk menafsirkan serta menegosiasikan arahan politik sang pemimpin.

Roni berhasil mempertahankan tesisnya di bawah bimbingan Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Prof. Dr. M. Ikhsan Tanggok, M.Si, Prof. Dr. Yusron Razak, MA dan Dr. Cucu Nurhayati, M.Si.

Setelah memperhatikan penulisan tesis, komentar tim penguji dan jawaban kandidat, tim penguji menetapkan bahwa Roni Lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Ahmad Roni Yahya merupakan Magister ke-2832 dalam bidang Pengkajian Islam, pada program Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Jay A)