Ujian Tesis Malik Rahmatullah, Nilai Islam dan Pragmatisme dalam Kebijakan Indonesia atas Konflik Iran-Israel
Ujian Tesis Malik Rahmatullah, Nilai Islam dan Pragmatisme dalam Kebijakan Indonesia atas Konflik Iran-Israel

Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Tesis ke-2822 bertempat di Ruang Teater  SPs UIN Jakarta pada Senin, 27 Juli 2026 dengan kandidat Malik Rahmatullah.

Malik merupakan mahasiswa program Magister Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Islam dan Hubungan Internasional. Tesisnya berjudul “Islam dalam Kebijakan Luar Negeri Indonesia: Perihal Perdamaian pada Konflik Iran dan Israel (2023—2025)".

Penelitian ini menelisik bagaimana identitas dan landasan normatif Islam diartikulasikan ke dalam kebijakan luar negeri Indonesia. Penelitian ini memotret posisi unik Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dalam merespons tekanan solidaritas keagamaan serta kepentingan strategis domestik.

Melalui pisau analisis teori Konstruktivisme, Malik menjelaskan bahwa norma dan identitas keislaman bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen pembentuk kepentingan nasional. Pendekatan Foreign Policy Analysis (FPA) dioperasionalisasikan dengan logika konstruktivis untuk mengurai bagaimana ide, konsepsi nilai, dan identitas para aktor kunci domestik maupun internasional secara dinamis memengaruhi arah diplomasi Indonesia.

Fokus utama penelitian ini menyoroti kehadiran tiga nilai fundamental Islam dalam narasi diplomasi Indonesia: keadilan (al-'adālah), seruan kebaikan dan pencegahan kemungkaran (amar ma'rūf nahi munkar), serta persaudaraan Islam (al-ukhuwwah al-islāmiyyah). Ketiga nilai normatif ini terbukti mewarnai setiap retorika kebijakan, baik di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo maupun Presiden Prabowo Subianto.

Metode discourse analysis kualitatif diterapkan terhadap berbagai dokumen resmi Kementerian Luar Negeri, pidato kepresidenan, resolusi PBB, hingga pernyataan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Hasil analisis bahasa ini mengonfirmasi bahwa diskursus kebijakan luar negeri Indonesia senantiasa mengaitkan tindakan diplomasinya dengan prinsip-prinsip etis Islam tersebut.

Dalam praktiknya, nilai-nilai Islam tersebut bekerja pada dua tingkatan yang saling melengkapi. Pertama, berfungsi sebagai sumber legitimasi moral yang mengokohkan pijakan Indonesia di panggung internasional. Kedua, bertindak sebagai modal soft power yang berhasil dikonversi menjadi tindakan diplomatik konkret, salah satunya melalui penunjukan utusan khusus untuk kawasan Timur Tengah.

Menariknya, penelitian ini mengungkapkan adanya dinamika continuity and change (kesinambungan dan perubahan) seiring transisi kepemimpinan nasional dari Presiden Joko Widodo ke Presiden Prabowo Subianto. Meski kedua era tetap memegang teguh prinsip politik luar negeri bebas-aktif, terdapat pergeseran penekanan yang signifikan dalam gaya diplomasi yang diterapkan.

Era Joko Widodo (2023–2024) cenderung didominasi oleh pendekatan normatif-humaniter yang berfokus pada dorongan penyelesaian damai berbasis hukum internasional dan nilai kemanusiaan. Sebaliknya, era Prabowo Subianto (2025) mulai memperlihatkan corak yang lebih pragmatis, yang ditandai dengan penguatan diplomasi pertahanan, perluasan kemitraan strategis seperti bersama Turki, hingga keterbukaan wacana terkait normalisasi hubungan dengan Israel.

Prinsip politik luar negeri bebas-aktif terbukti tetap menjadi fondasi utama kebijakan luar negeri Indonesia yang tak tergoyahkan. Perubahan yang terjadi lebih terletak pada taktik implementasi, beralih dari pendekatan normatif menuju langkah yang lebih pragmatis sebagai respons cepat terhadap pergeseran lanskap geopolitik global yang kian kompleks.

Temuan tesis ini memberikan kontribusi teoritis dan praktis yang penting bagi khazanah ilmu hubungan internasional dan studi Islam. Penelitian Malik Rahmatullah menegaskan bahwa nilai-nilai Islam bukanlah variabel yang terpisah dari prinsip bebas-aktif, melainkan sumber daya normatif terintegrasi yang secara konsisten meneguhkan peran Indonesia sebagai penjembatan perdamaian (bridge builder) di tengah konflik internasional.

Malik berhasil mempertahankan tesisnya di bawah bimbingan Dr. Muhamad Adian Firnas, S.IP, M.Si, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Dr. Muhamad Adian Firnas, S.IP, M.Si, Prof. Dr. Iik Arifin Mansurnoor, MA, Mutiara Pertiwi, MA, Ph.D.

Setelah memperhatikan penulisan tesis, komentar tim penguji dan jawaban kandidat, tim penguji menetapkan bahwa Malik Rahmatullah lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Malik Rahmatullah merupakan Magister ke-2822 dalam bidang Pengkajian Islam, pada program Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Jay A)