Ujian Tesis Muhammad Ericson Ziad: Ulama Reformis di Tanah Betawi: Pemikiran Sosial-Keagamaan Mualim Md. Ali Alhamidy Matraman (1909—1985)
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Tesis ke-2800 bertempat di Ruang Teater SPs UIN Jakarta pada Rabu, 11 Februari 2026 dengan kandidat Muhammad Ericson Ziad.
Ikhsan merupakan mahasiswa program Magister Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Sejarah dan Peradaban Islam. Tesisnya berjudul “Ulama Reformis di Tanah Betawi: Pemikiran Sosial-Keagamaan Mualim Md. Ali Alhamidy Matraman (1909—1985)”. Ericson berhasil mempertahankan penelitiannya yang membedah sosok intelektual Betawi berpengaruh, Mualim Md. Ali Alhamidy Matraman.
Penelitian ini mengangkat tajuk "Ulama Reformis di Tanah Betawi: Pemikiran Sosial-Keagamaan Mualim Md. Ali Alhamidy Matraman (1909—1985)". Melalui karyanya, Ericson berupaya mengupas tuntas bagaimana gagasan besar Md. Ali Alhamidy dalam merespons dinamika sosial dan tradisi keagamaan yang berkembang di jantung ibu kota pada pertengahan abad ke-20.
Menggunakan metode kualitatif-historis, studi ini memfokuskan bidikan pada dua aspek krusial: pandangan Alhamidy terhadap ritual keagamaan lokal serta responsnya terhadap isu-isu sosial nasional. Ericson berhasil memotret sosok Alhamidy bukan sekadar sebagai pemuka agama, melainkan sebagai intelektual yang mampu menavigasi arus modernitas di tengah masyarakat urban Jakarta yang heterogen.
Salah satu poin paling menarik dalam tesis ini adalah keberanian Ericson dalam menggugat stereotip lama tentang kelompok reformis. Jika selama ini Muslim reformis identik dengan sikap kaku terhadap perkara bidah dan tradisi lokal, sosok Alhamidy justru menunjukkan anomali yang menyegarkan. Ia membuktikan bahwa menjadi reformis tidak berarti harus memusuhi budaya.
Bagi Alhamidy, tradisi dan ritual keagamaan tidak selamanya buruk atau menyimpang. Penelitian ini mengungkapkan argumen kuat bahwa ritual-ritual tersebut justru memberikan manfaat signifikan bagi kohesi sosial, selama substansinya diisi dengan nilai-nilai positif dan konstruktif. Sikap ini menempatkan Alhamidy sebagai tokoh yang adaptif-akomodatif.
Melalui pendekatan sejarah intelektual, Ericson menemukan bahwa jaringan sosial dan karier Alhamidy di berbagai institusi modern sangat memengaruhi moderasi pemikirannya. Keterlibatannya dalam dunia pendidikan dan organisasi modern membentuk corak pemikiran yang lebih terbuka, menjadikannya jembatan antara semangat pemurnian agama dan kearifan lokal.
Temuan ini secara langsung memberikan koreksi terhadap tesis klasik pakar sejarah seperti Howard M. Federspiel (1970) dan Deliar Noer (1980). Kedua tokoh tersebut sebelumnya menyatakan bahwa karakteristik utama Muslim reformis-modernis adalah anti-tradisi. Namun, fakta sejarah pada sosok Alhamidy justru menunjukkan sikap moderat yang melampaui teori tersebut.
Lebih jauh lagi, penelitian ini memperkuat teori yang pernah diusung oleh mendiang Prof. Azyumardi Azra (1994) dan Jajat Burhanudin (2012). Ericson menegaskan bahwa jaringan intelektual dan pergaulan sosial memiliki pengaruh yang jauh lebih dominan dalam membentuk karakter seseorang dibandingkan sekadar ikatan kultural primordial atau asal-usul kesukuan.
Hadirnya tesis ini memberikan dimensi baru dalam melihat peta pemikiran Islam di Indonesia, khususnya di tanah Betawi. Sosok Mualim Md. Ali Alhamidy Matraman kini tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan sebagai representasi dari wajah Islam yang inklusif, cerdas, dan mampu merangkul zaman tanpa kehilangan jati diri.
Ujian tesis ini diakhiri dengan apresiasi dari para penguji yang menilai bahwa karya Muhammad Ericson Ziad berhasil memperkaya khazanah studi tokoh Islam nusantara. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan penting bagi generasi muda dalam memahami cara beragama yang moderat dan harmonis di tengah kemajemukan bangsa.
Ericson berhasil mempertahankan tesisnya di bawah bimbingan Prof. Dr. Jajat Burhanudin, MA, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Prof. Dr. Didin Saepudin, MA, Dr. Fuad Jabali, MA.
Setelah memperhatikan penulisan tesis, komentar tim penguji dan jawaban kandidat, tim penguji menetapkan bahwa Muhammad Ericson Ziad lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Muhammad Ericson Ziad merupakan Magister ke-2800 dalam bidang Pengkajian Islam, pada program Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)
