Ujian Tesis Muhammad Faiz, Tragedi Kemanusiaan dalam Puisi Perlawanan Ḥālah Ḥiṣār Maḥmūd Darwīsh
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Tesis ke-2819 bertempat di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta pada Rabu, 15 Juli 2026 dengan kandidat Muhammad Faiz.
Faiz merupakan mahasiswa program Magister Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Bahasa dan Sastra Arab. Tesisnya berjudul “Tragedi Kemanusiaan dalam Puisi Perlawanan Ḥālah Ḥiṣār Maḥmūd Darwīsh".
Penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademik untuk membedah bagaimana karya sastra mampu memotret realitas kelam penindasan. Secara khusus, tesis ini menelaah fungsi sosial puisi tersebut sebagai bentuk resistensi kultural masyarakat Palestina terhadap penjajahan Israel.
Menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, Faisal menjadikan teks asli puisi Ḥālah Ḥiṣār karya penyair legendaris Maḥmūd Darwīsh sebagai data primer. Untuk memperkuat analisisnya, ia mengombinasikannya dengan berbagai literatur akademik penunjang yang relevan. Langkah ini diambil guna memastikan pembacaan atas karya Darwīsh memiliki landasan teoretis yang kokoh.
Proses pengumpulan data dalam riset ini dilakukan secara tekun melalui teknik Baca, Simak, dan Catat (BSC). Faisal membaca teks puisi secara intensif dan berulang-ulang untuk menangkap setiap esensi puitik yang tersirat. Ia menyimak dengan cermat unsur estetika yang ada, lalu mencatat data-data krusial yang berkaitan langsung dengan tragedi kemanusiaan, humanisme Islam, serta fungsi sosial sastra.
Pisau analisis yang digunakan dalam tesis ini pun terbilang komprehensif. Faisal membedah karya tersebut secara tekstual dan kontekstual menggunakan perpaduan Teori Sosiologi Sastra dari Ian Watt, konsep Adab al-Muqāwamah (sastra perlawanan), serta perspektif Humanisme Islam. Hasilnya, penelitian ini berhasil membuktikan bahwa puisi Ḥālah Ḥiṣār bukan sekadar ratapan atas penderitaan, melainkan sebuah refleksi moral yang mendalam.
Secara tematik, tesis ini mengungkap bagaimana puisi Darwīsh dengan apik merepresentasikan hilangnya identitas, keterasingan sosial, dan ketegangan eksistensial manusia yang hidup di bawah kurungan pengepungan. Menariknya, di balik potret kelam tersebut, tersemat pula nilai-nilai keberanian, kesabaran, dan kasih sayang universal. Nilai-nilai inilah yang digarisbawahi Faisal sebagai manifestasi nyata dari Humanisme Islam.
Melalui analisisnya, Faisal menegaskan bahwa Darwīsh tidak menyuarakan perlawanan lewat slogan-slogan politik yang menggebu-gebu. Sebaliknya, sang penyair melakukan transformasi makna penderitaan fisik menjadi sebuah kesadaran moral dan spiritual yang tinggi. Pendekatan humanis inilah yang membuat pesan perlawanan dalam puisi tersebut terasa begitu universal dan menyentuh hati pembacanya.
Ditinjau dari dimensi sosial dan kultural, penelitian ini memosisikan puisi Ḥālah Ḥiṣār sebagai media perlawanan intelektual yang sangat efektif. Karya sastra ini terbukti mampu menumbuhkan solidaritas lintas batas dan membangun kesadaran kolektif di kalangan masyarakat yang tertindas. Lebih dari itu, puisi ini hadir sebagai ruang kritik yang lantang terhadap segala bentuk ketidakadilan dan dehumanisasi global.
Faisal berargumen bahwa meskipun puisi sering kali dipandang sebelah mata sebagai karya estetis yang penuh metafora dan imajinasi liar, fungsinya di dunia nyata jauh lebih besar. Puisi perlawanan Maḥmūd Darwīsh adalah medium sosial aktif dan kekuatan kultural yang nyata. Di dalamnya, aspek estetika (keindahan), etika (moralitas), dan spiritualitas menyatu menjadi senjata diplomasi budaya yang diadopsi masyarakat.
Penelitian terdahulu tentang Ḥālah Ḥiṣār lebih banyak didominasi oleh kajian linguistik, pragmatik, stilistika, dan intertekstualitas, Faisal menawarkan kebaruan (novelty) melalui kacamata Sosiologi Sastra dan Humanisme Islam. Temuan ini menegaskan bahwa sastra perlawanan tidak berhenti sebagai pajangan seni, melainkan pilar penting dalam merawat martabat kemanusiaan.
Faiz berhasil mempertahankan tesisnya di bawah bimbingan Dr. Rizqi Handayani, MA, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Dr. Rizqi Handayani, MA, Yeni Ratna Yuningsih, MA, Ph.D, Dr. Cahya Buana, MA.
Setelah memperhatikan penulisan tesis, komentar tim penguji dan jawaban kandidat, tim penguji menetapkan bahwa Muhammad Faiz lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Muhammad Faiz merupakan Magister ke-2819 dalam bidang Pengkajian Islam, pada program Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Jay A)
