Ujian Tesis Riza Muhammad, Hermeneutika Ahl al-Kitāb dalam Al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Dialog Antaragama Perspektif Mohammed Arkoun
Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Tesis ke-2826 bertempat di Ruang Teater SPs UIN Jakarta pada Selasa, 28 Juli 2026 dengan kandidat Riza Muhammad.
Riza merupakan mahasiswa program Magister Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Tafsir Interdisiplin. Tesisnya berjudul “Hermeneutika Ahl al-Kitāb dalam Al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Dialog Antaragama Perspektif Mohammed Arkoun". Riza mempertahankan risetnya yang mengkritisi kecenderungan penafsiran teologis-hukum terhadap konsep Ahl al-Kitāb dalam tradisi tafsir klasik.
Tesis ini berangkat dari keprihatinan atas wacana keagamaan yang masih sering melahirkan pola relasi antaragama yang eksklusif dan hierarkis. Penafsiran yang terpatri pada batas-batas hukum dogmatis dinilai kerap menyempitkan ruang perjumpaan inklusif di antara sesama pemeluk agama.
Dalam pemaparannya, Riza menegaskan bahwa pemikiran sarjana asal Aljazair, Mohammed Arkoun, menawarkan jalan keluar epistemologis yang segar. Meskipun studi terdahulu tentang Arkoun banyak menyoroti kritik hermeneutika dan dekonstruksi nalar Islam secara umum, penelitian Riza secara spesifik membongkar transformasi konsep Ahl al-Kitāb menjadi "Masyarakat Kitab" (Societies of the Book).
Penelitian kepustakaan (library research) berbasis metode kualitatif ini berupaya membedah landasan epistemologis pemikiran Arkoun sekaligus memetakan relevansinya bagi dialog antaragama kontemporer. Melalui pendekatan hermeneutika kritis, historis, dekonstruktif, dan interdisipliner, Riza mengurai secara komprehensif bagaimana wacana tersebut beroperasi dan direspons oleh para intelektual Muslim.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Arkoun berhasil melakukan pergeseran mendasar: memindahkan konsep Ahl al-Kitāb dari ranah hukum-teologis yang kaku menuju kerangka historis, etis, dan humanis. Dalam paradigma baru ini, seluruh komunitas berbasis wahyu tidak lagi diposisikan dalam relasi dominasi atau polemik, melainkan sebagai mitra dialog yang setara di dalam ruang kemanusiaan universal.
Melalui pisau analisis Islamologi Terapan (Applied Islamology), Arkoun melontarkan kritik tajam terhadap dominasi pembacaan turāth (tradisi) yang cenderung normatif dan polemis. Ia berupaya membuka kembali wilayah yang selama ini terabaikan atau tak terpikirkan (the unthought) dalam tradisi pemikiran Islam, sehingga wahyu tidak hanya dipahami sebagai teks sakral yang final, melainkan juga sebagai wacana historis yang terus hidup dan berdialektika dengan dinamika zaman.
Gagasan progresif Arkoun ini memiliki irisan metodologis dengan para pemikir pembaruan Islam lainnya, seperti Fazlur Rahman, Naṣr Ḥāmid Abū Zayd, dan Abdolkarim Soroush. Meskipun berangkat dari sudut pandang yang bermacam-macam, mereka sama-sama menekankan pentingnya mendudukkan dimensi historis dan kontekstual dalam memahami teks-teks keagamaan.
Di sisi lain, penelitian ini juga memetakan gelombang kritik terhadap pemikiran Arkoun dari para cendekiawan terkemuka, seperti Muḥammad Naquib al-Aṭṭas, Yūsuf al-Qaraḍāwī, Taha Abderrahmane, Seyyed Hossein Nasr, hingga Jamal al-Banna. Para pengkritik ini menekankan kekhawatiran bahwa pendekatan dekonstruktif yang diusung Arkoun berpotensi merelatifkan otoritas mutlak wahyu dan mengikis fondasi tradisi Islam.
Menanggapi dinamika pemikiran tersebut, Riza berargumen bahwa konsep Masyarakat Kitab justru memberikan tawaran paradigma baru yang melampaui slogan toleransi formal maupun perdebatan teologis yang melelahkan. Paradigma ini menuntut adanya keberanian untuk melakukan kritik diri (self-criticism), penghormatan yang tulus terhadap perbedaan, serta kerja sama nyata di bidang kemanusiaan.
Melalui ujian tesis ini, kontribusi pemikiran Mohammed Arkoun yang direkonstruksi oleh Riza Muhammad diharapkan dapat menjadi rujukan epistemologis penting dalam merajut kembali relasi antaragama yang lebih damai, inklusif, dan adil di tengah realitas masyarakat plural kontemporer.
Riza berhasil mempertahankan tesisnya di bawah bimbingan Prof. Kusmana, MA, Ph.D, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Prof. Kusmana, MA, Ph.D, Prof. Dr. Hamid Nasuki, M.Ag, Prof. Dr. Saifuddin Herlambang, MA.
Setelah memperhatikan penulisan tesis, komentar tim penguji dan jawaban kandidat, tim penguji menetapkan bahwa Riza Muhammad lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Riza Muhammad merupakan Magister ke-2826 dalam bidang Pengkajian Islam, pada program Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(Jay A)
