Ujian Tesis Sihabussalam: Implikasi Tafsīr Maqāṣidī Ibn ‘Āshūr dalam Konstruksi Kaidah Tarjih Tafsir
Ujian Tesis Sihabussalam: Implikasi Tafsīr Maqāṣidī Ibn ‘Āshūr dalam Konstruksi Kaidah Tarjih Tafsir

Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Tesis ke-2798 bertempat di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta pada Kamis, 5 Februari 2026 dengan kandidat Sihabussalam.

Syihab merupakan mahasiswa program Magister Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Tafsir. Tesisnya berjudul “Implikasi Tafsīr Maqāṣidī Ibn ‘Āshūr dalam Konstruksi Kaidah Tarjih Tafsir”. Tesis ini hadir sebagai respons akademik terhadap kompleksitas diskursus penafsiran Al-Qur'an di era kontemporer.

Penelitian ini bertujuan membedah secara filosofis struktur dasar dan argumentasi tafsīr maqāṣidī yang dikembangkan oleh ulama besar Tunisia, Ibn ‘Āshūr. Fokus utamanya adalah menemukan bagaimana nilai-nilai tujuan syariat (maqasid) dapat diinternalisasi ke dalam kerangka kaidah tarjih sebuah mekanisme untuk memilih pendapat yang paling kuat di antara keragaman tafsir.

Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, Syihab menjadikan karya Tafsīr al-Taḥrir wa al-Tanwir sebagai sumber primer. Ia membedah teks tersebut dengan pisau analisis deskriptif serta pendekatan filosofis untuk menggali fondasi kritis di balik pemikiran Ibn ‘Āshūr.

Menariknya, tesis ini mengintegrasikan teori meaning dan significance dari E.D. Hirsch Jr. Teori ini digunakan untuk menganalisis bagaimana diksi dan penafsiran yang dipilih Ibn ‘Āshūr tidak hanya berhenti pada makna tekstual, tetapi juga menjangkau signifikansi yang relevan dengan konteks zaman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penafsiran Ibn ‘Āshūr merupakan perpaduan harmonis antara kedalaman linguistik dan signifikansi maqāṣidī. Kombinasi ini membangun fondasi konseptual yang kokoh, menciptakan sistem aturan, relasi, dan prinsip disiplin keilmuan yang sistematis dalam dunia tafsir.

Syihab berargumen bahwa tafsīr maqāṣidī memiliki kapasitas untuk menjadi basis konstruksi tarjih. Hal ini terverifikasi melalui landasan pemikiran Ibn ‘Āshūr yang menitikberatkan pada komunikasi dua arah antara teks suci dan pembaca, sehingga tafsir tetap hidup dan fungsional.

Lebih jauh, landasan ini membentuk signifikansi tarjih yang luar biasa, mulai dari pembentukan sikap moderat (wasathiyah) hingga responsivitas terhadap dinamika zaman. Pendekatan ini juga mengajarkan penerimaan terhadap perbedaan pendapat (diskrepansi) sembari tetap memelihara kemaslahatan dalam pengambilan keputusan hukum.

Tesis ini berhasil merumuskan tiga kaidah utama dalam tarjih tafsir. Pertama, tujuan tertinggi Al-Qur’an adalah landasan utama; kedua, tarjih terhadap ayat meniscayakan kehadiran tujuan dasar Al-Qur’an; dan ketiga, jika terjadi pertentangan lafaz, maka keputusan harus berpijak pada tujuan terperinci (maqasid khassah).

Secara tegas, Syihab menolak temuan peneliti terdahulu, ‘Abīr binti Abdillah al-Na‘īm (2015), yang menyebut bahwa tarjih Ibn ‘Āshūr cenderung subjektif dan teologis. Baginya, filosofi tafsīr maqāṣidī justru melampaui sekadar metode teknis, karena ia merupakan sebuah cara pandang dunia yang objektif.

Meski memiliki kedalaman filosofis, penelitian ini menekankan bahwa tafsīr maqāṣidī bukanlah subdisiplin yang kaku atau merusak tradisi yang ada. Sebaliknya, ia memiliki kapasitas transformatif untuk menghadirkan metode penafsiran yang jauh lebih efektif, moderat, dan inklusif.

Transformasi yang ditawarkan tidak bertujuan untuk memberangus keragaman interpretasi. Syihab menegaskan bahwa tarjih berbasis maqasid justru menjadi instrumen dialogis yang mendorong evaluasi kritis serta pembaruan penafsiran secara berkelanjutan tanpa kehilangan jati diri teks.

Tesis ini mempertegas bahwa objektivitas tafsir dapat dicapai melalui pendekatan maqasid tanpa harus menutup ruang perbedaan. Perbedaan pemahaman Al-Qur'an dipandang sebagai sebuah dinamika yang inheren, di mana tarjih hadir sebagai pemandu untuk kemaslahatan umat manusia.

Sihabussalam berhasil mempertahankan tesisnya di bawah bimbingan Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Yusuf Rahman, MA, Prof. Dr. Saifuddin Herlambang, MA dan Dr. Abdul Moqsith Ghazali, M.Ag.

Setelah memperhatikan penulisan tesis, komentar tim penguji dan jawaban kandidat, tim penguji menetapkan bahwa Sihabussalam lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Sihabussalam merupakan Magister ke-2798 dalam bidang Pengkajian Islam, pada program Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)