Ujian Tesis Zufardien Muhammad: Praktik Diplomasi Konsulat Turki Utsmani di Batavia dalam Konteks Kolonial Hindia Belanda (1882—1924)
Ujian Tesis Zufardien Muhammad: Praktik Diplomasi Konsulat Turki Utsmani di Batavia dalam Konteks Kolonial Hindia Belanda (1882—1924)

Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta, BERITA SPs - Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Ujian Tesis ke-2807 bertempat di Ruang Auditorium Prof. Dr. Suwito, MA SPs UIN Jakarta pada Selasa, 24 Februari 2026 dengan kandidat Zufardien Muhammad.

Zufardien merupakan mahasiswa program Magister Pengkajian Islam dengan Konsentrasi Sejarah dan Peradaban Islam. Tesisnya berjudul “Praktik Diplomasi Konsulat Turki Utsmani di Batavia dalam Konteks Kolonial Hindia Belanda (1882—1924)”.

Zufardien memaparkan temuan mengenai praktik diplomasi Konsulat Turki Utsmani di Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda, sebuah periode krusial yang jarang dikupas dari kacamata arsip Istanbul.

Tesis ini bertujuan membedah bagaimana kekhalifahan Islam terbesar saat itu mengoperasikan pengaruhnya di tanah jajahan Belanda. Penelitian ini menyoroti transformasi pola relasi Turki Utsmani dengan Nusantara yang semula bersifat antar-kerajaan menjadi hubungan diplomatik modern yang terinstitusi.

Fokus utama kajian ini adalah menelaah gerak-gerik para konsul Utsmani dalam ruang kolonial yang sangat sempit dan diawasi ketat oleh regulasi Belanda. Konsulat di Batavia tidak hanya menjadi kantor administratif, tetapi juga berfungsi sebagai perantara strategis antara Istanbul, komunitas Muslim di Nusantara, dan otoritas kolonial Belanda yang selalu penuh kecurigaan.

Kekuatan utama penelitian Zufardien terletak pada metodologi sejarah diplomasi yang berbasis pada sumber primer. Ia menelusuri dokumen-dokumen otentik dari Başbakanlık Osmanlı Arşivi (BOA) di Istanbul, Turki. Melalui pembacaan historis-kontekstual terhadap arsip-arsip diplomatik tersebut, dinamika kerja dan dilema para konsul Utsmani berhasil direkonstruksi secara apik.

Temuan penelitian ini membawa perspektif baru yang cukup mengejutkan. Berbeda dengan asumsi populer, Turki Utsmani ternyata tidak memosisikan dirinya sebagai pelindung politik atau militer bagi Muslim Nusantara. Sebaliknya, Istanbul tampil sebagai aktor diplomatik modern yang sangat menghormati hukum internasional dan menjaga stabilitas geopolitik demi hubungan baik dengan pemerintah kolonial.

Lahirnya konsulat di Batavia menandai pergeseran paradigma komunikasi politik Utsmani. Jika sebelumnya mereka menjalin hubungan dengan kesultanan-kesultanan lokal seperti Aceh, pada periode 1882–1924 mereka beralih ke diplomasi konsuler non-teritorial. Ini berarti Utsmani memilih beroperasi langsung di pusat saraf kekuasaan Belanda untuk menjaga kepentingan warga dan agamanya.

Praktik diplomasi harian konsulat mencakup spektrum yang luas, mulai dari representasi politik, perlindungan administratif bagi warga Utsmani, hingga mediasi hukum. Meski tampak formal, konsulat juga memfasilitasi kepentingan sosial dan keagamaan komunitas Muslim di Batavia dalam batas-batas prosedural yang defensif agar tidak memicu konflik terbuka dengan Belanda.

Zufardien berargumen bahwa kehadiran Turki Utsmani di penghujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20 bukanlah bentuk ekspansi kekuasaan fisik. Pengaruh kekhalifahan diwujudkan melalui "negosiasi simbolik" dan diplomasi yang cerdik di tengah himpitan kekuasaan kolonial, membuktikan bahwa kekuatan pengaruh tidak selalu harus diukur dengan kontrol wilayah.

Penelitian ini juga menawarkan kebaruan (novelty) dengan memposisikan Batavia sebagai arena utama diplomasi Utsmani di Asia Tenggara. Jika peneliti terdahulu seperti Reid (1967), Supratman (2016), dan Pandawa (2020) lebih banyak menyoroti isu Pan-Islamisme atau jaringan Aceh, studi ini memberikan ruang bagi Batavia sebagai titik temu diplomasi modern yang kompleks.

Kontribusi akademik ini tidak hanya memperkaya sejarah hubungan Turki Utsmani dan Nusantara, tetapi juga memberikan pemahaman baru bagi publik mengenai bagaimana sebuah kekuatan global mengelola hubungan di wilayah kolonial. Sidang tesis ini menjadi bukti bahwa sejarah diplomasi Islam di Indonesia masih menyimpan banyak sisi menarik yang perlu terus digali melalui sumber-sumber internasional.

Zufardien berhasil mempertahankan tesisnya di bawah bimbingan Prof. Dr. Jajat Burhanudin, MA, dan diuji di hadapan dewan penguji yang terdiri atas Hamdani, M.Ag, Ph.D, Prof. Dr. Jajat Burhanudin, MA, Prof. Dr. Didin Saepudin, MA, Dr. Fuad Jabali, MA.

Setelah memperhatikan penulisan tesis, komentar tim penguji dan jawaban kandidat, tim penguji menetapkan bahwa Zufardien lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Zufardien Muhammad merupakan Magister ke-2807 dalam bidang Pengkajian Islam, pada program Magister Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.(JA)