Sekolah Pascasarjana | Tafsir Al-Quran Akan Terus Berkembang
18291
post-template-default,single,single-post,postid-18291,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.1.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Tafsir Al-Quran Akan Terus Berkembang

Tafsir Al-Quran Akan Terus Berkembang

Auditorium SPs UIN Jakarta, BERITA SEKOLAH Online- Pakar Tafsir al-Quran, Prof. Dr. H.M. Quraish Shihab mengatakan bahwa setiap ulama yang menafsirkan al-Quran tidak bisa kita katakan itulah karyanya yang terbaik. Kenapa ? karena setiap orang yang menafsirkan al-Quran dipengaruhi oleh cara berfikirnya, lingkungannya, bacaannya dan situasi yang meletarbelakanginya. Karena itu penafsiran akan terus mengalami perkembangan.

Hal itu dikatakannya dalam acara Kuliah Umum yang diselenggarakan SPs UIN Jakarta Senin 23 April 2018. Acara dipimpin oleh Prof. Dr. Didin Saepudin, MA, Ketua Program Doktor SPs UIN Jakarta  sebagai moderator, dan dihadiri oleh Prof. Dr. Masykuri Abdillah, direktur SPs yang memberi kata sambutan, Prof.Dr. A. Rodoni, wadir SPs, Dr. JM Muslimin, Ketua Program Magister, dan Dr. Kamarusdiana, sekretaris Program Magister. Tampak hadir pula Dosen SPs, Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, Prof. Dr. Salman Harun dan Prof Dr. Iik Arifin.

Lebih lanjut mantan Rektor UIN Jakarta dan Menteri Agama RI 1998 ini menyatakan kalau anda akan menafsirkan al-Quran maka jangan gunakan kamus-kamus yang terbit sekarang tapi gunakan kamus-kamus yang sesuai dengan kosa kata dimana al-Quran diturunkan saat itu. Sebab boleh jadi terjemahan yang kita baca sekarang tidak cocok dengan makna sebenarnya dari al-Quran tsb. Prof. Quraish mencontohkan kata “aqiimuss sholaah” apakah tepat diterjemahkan “dirikanlah shalat” dan “aatuz zakaah”, tunaikanlah zakat.

Kuliah Umum tsb memikat banyak perminat yang mayoritas mahasiswa SPs sehingga ruangan tidak dapat menampung yang hadir. Setelah 30 menit Prof Quraish memberikan Pengantar kemudian dibuka sesi tanya jawab. Salah satu mahasiswa menanyakan apa dan bagaimana dengan “tafsir bil ma’tsur” yang dijawab dengan tegas oleh Prof Quraish bahwa “tafsir bil ma’tsur” juga adalah “tafsir bir ra’yi”   yakni tafsir yang rumusannya disusun oleh ulama. Jadi siapapun bisa keliru. Ulama bisa keliru, sahabat saja bisa keliru. Yang tidak keliru hanya Nabi. Tetapi ada ulama yg mengatakan Nabi pun bisa keliru dalam masalah-masalah keduniaan.

Pesan Prof Quraish kepada hadirin di bulan Ramadhan, perbanyak memahami isi al-Quran bukan banyak membacanya. Cukup kita baca 10 ayat, selebihnya adalah berusaha memahami isinya.

Acara yang berlangsung dua jam tersebut ditutup dengan penyerahan cenderamata dan ramah tamah (dsb).

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.