Sekolah Pascasarjana | Quraish Shihab: Penafsiran Al-Quran Bisa Subyektif
18296
post-template-default,single,single-post,postid-18296,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,side_area_uncovered_from_content,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-13.1.2,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive

Quraish Shihab: Penafsiran Al-Quran Bisa Subyektif

Quraish Shihab: Penafsiran Al-Quran Bisa Subyektif

Auditorium SPs UIN Jakarta, BERITA SEKOLAH Online – Ahli Tafsir Indonesia HM Quraish Shihab mengungkapkan bahwa al-Qur’an itu memiliki sifat subyektif. Karena bersifat subyektif, maka al-Qur’an dapat ditafsirkan sesuai dengan zaman yang dihadapinya.

Hal itu dikatakan Quraish Shihab saat memberikan kuliah umum bertajuk “Metode Tafsir al-Qur’an” di Auditorium Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta, Senin (23/4/2018). Kuliah umum dihadiri oleh ratusan mahasiswa, baik program magister maupun program doktor.

“Al-Qur’an itu bersifat subyektif, namun bukan termasuk fiksi, yang hanya menggambarkan tentang kalimat yang terkandung di dalamnya. Karena al-Qur’an sendiri dijamin kebenarannya,” katanya.

Menurut Quraish, saat menafsirkasn al-Qur’an, seorang penafsir juga tidak perlu terjebak dalam subyektifitas, karena teks memiliki makna obyektif dalam struktur internalnya. Namun, makna dari struktur internal tersebut tidak sepenuhnya membunuh subyek, karena teks selalu akan menunjuk atau mengacu pada suatu dunia tertentu.

“Oleh karena itu, penafsiran selain menemukan makna obyektif teks, juga menemukan cakrawala dunia yang di arah oleh teks, sehingga penafsir meleburkan diri dalam dunia teks,” jelas Rektor UIN Jakarta periode 1992-1998 itu.

Qiraish mengatakan, jika seseorang ingin bersahabat dengan al-Qur’an, maka ia harus bisa dekat

dengannya. Tidak hanya dibaca sekali, tetapi harus berulang kali, bahkan dijadikan sebagai kekasih. “Al-Qur’an itu akan mampu memerangi urusan duniawi,” ujarnya.

Konon, dalam waktu dekat, Menteri Agama di era Presiden Soeharto itu juga akan menerbitkan buku tentang mawaris (ahli waris). Dalam buku tersebut, katanya, Quraish menjelaskan tentang pembagian warisan untuk wanita.

“Dalam fiqih mawaris, wanita biasanya disebut hanya mendapatkan separuh dari bagian laki-laki. Tetapi di buku (saya) ini akan ditafsirkan kembali pembagian warisan untuk wanita atas pertimbangan berbagai macam kasus yang terjadi di era modern ini,” ungkapnya. (ns/hh)

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.